Mengapa Data Mangrove Itu Penting?
Desa Batang Sari, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, merupakan wilayah pesisir yang kehidupan masyarakatnya sangat bergantung pada keberadaan ekosistem mangrove. Mangrove berperan sebagai pelindung alami pesisir, habitat berbagai biota perairan, serta penopang utama aktivitas perikanan masyarakat.
Meskipun perannya sangat penting, sebelum tahun 2025 kondisi ekosistem mangrove Desa Batang Sari belum terdokumentasi secara sistematis. Informasi mengenai sebaran, luas, kerapatan, dan komposisi jenis mangrove masih sangat terbatas. Ketiadaan data dasar ini menyulitkan desa dalam merumuskan kebijakan, menentukan prioritas perlindungan, serta merencanakan pengelolaan mangrove secara berkelanjutan. Oleh karena itu, data mangrove menjadi fondasi utama dalam memastikan setiap keputusan pengelolaan didasarkan pada kondisi ekologi yang nyata.
Pendekatan Kegiatan: Menggabungkan Peta dan Data Lapangan
Kegiatan survei ini dirancang untuk menghasilkan data spasial dan data lapangan yang saling melengkapi. Peta sebaran mangrove disusun menggunakan batas administrasi desa dari Badan Informasi Geospasial (BIG), citra satelit Sentinel-2A resolusi 10 meter, serta Peta Mangrove Nasional 2023 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Peta ini digunakan sebagai dasar untuk memahami pola distribusi mangrove dan menentukan lokasi pengambilan sampel lapangan.
Pengukuran kerapatan mangrove dilakukan menggunakan metode plot sampling sebanyak 15 plot berukuran 10 × 10 meter. Setiap individu mangrove di dalam plot diidentifikasi hingga tingkat jenis dan dihitung jumlah individunya. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan kondisi mangrove tidak hanya secara visual melalui peta, tetapi juga secara kuantitatif melalui data lapangan.


Pelaksanaan survei melibatkan empat orang tim, terdiri dari dua staf Yayasan Mitra Insani, dua volunteer mahasiswa dari Universitas Islam Indragiri, serta didampingi oleh Sekretaris Desa Batang Sari. Salah satu volunteer merupakan penyandang disabilitas fisik yang tetap berpartisipasi aktif dalam kegiatan lapangan. Keterlibatan ini mencerminkan komitmen YMI dalam menerapkan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) secara nyata dalam kegiatan teknis lapangan.
Apa yang Ditemukan di Lapangan?
Sebaran Spasial Mangrove

Hasil analisis peta menunjukkan bahwa mangrove di Desa Batang Sari terkonsentrasi di bagian selatan desa. Luas mangrove Desa Batang Sari 1.036 hektar, membentuk sabuk mangrove pesisir yang mengikuti garis pantai dan alur sungai pasang surut. Pola ini menegaskan bahwa kondisi hidrologi masih menjadi faktor utama yang mendukung keberadaan mangrove di wilayah tersebut.
Kerapatan dan Komposisi Jenis Mangrove
Hasil survei vegetasi mencatat 7 jenis mangrove sejati dan asosiasi, yaitu Avicennia alba, Bruguiera parviflora, Kandelia candel, Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, dan Nypa fruticans. Dari total luas pengamatan 0,15 ha, tercatat 396 individu mangrove, dengan kerapatan total mencapai 2.640 individu per hektar sebagaimana dririncina pada tabel 1.


Visualisasi persentase jumlah individu dan kerapatan mangrove menunjukkan dominasi Avicennia alba baik dari sisi jumlah maupun kerapatan. Sementara itu, Rhizophora apiculata dan Kandelia candel memberikan kontribusi signifikan terhadap struktur tegakan meskipun jumlah individunya lebih rendah. Pola ini mencerminkan zonasi alami mangrove pesisir dan menunjukkan keberagaman struktur ekosistem yang masih relatif baik.
Hasil analisis menunjukkan bahwa Avicennia alba merupakan jenis mangrove yang paling dominan di Desa Batang Sari, baik dari sisi jumlah individu maupun kerapatan. Dominasi ini mencerminkan kemampuan adaptasi Avicennia alba terhadap kondisi pesisir terbuka dan perannya sebagai spesies pionir dalam menjaga stabilitas sedimen.

Selain jenis dominan, survei juga mencatat keberadaan Kandelia candel yang jumlahnya relatif lebih sedikit namun memiliki nilai ekologis dan konservasi yang tinggi. Kehadiran jenis ini menunjukkan bahwa sebagian kawasan mangrove Desa Batang Sari masih menyediakan kondisi lingkungan yang mendukung bagi jenis mangrove yang lebih sensitif.

Berdasarkan kriteria kerapatan mangrove (FAO; UNEP; Bengen), nilai ini termasuk dalam kategori kerapatan tinggi (lebat). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekosistem mangrove Desa Batang Sari masih berfungsi secara ekologis sebagai pelindung pesisir, penahan abrasi, serta habitat penting bagi biota perairan.
Dari Data Menuju Aksi: Implikasi Pengelolaan Mangrove
Integrasi antara peta sebaran mangrove dan data kerapatan lapangan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi ekosistem mangrove Desa Batang Sari. Zona dengan mangrove yang masih lebat dan heterogeny harus dipertahankan sebagai area perlindungan untuk menjaga sumber propagul alami. Sementara itu, zona mangrove yang terfragmentasi menjadi prioritas rehabilitasi.
Pembelajaran dan Langkah Lanjut
Kegiatan ini memberikan pembelajaran penting terkait perencanaan survei berbasis pasang surut, pentingnya keselamatan kerja, serta efektivitas kolaborasi antara staf, volunteer, dan pemerintah desa. Penerapan prinsip GEDSI dalam kegiatan teknis lapangan juga menjadi praktik baik yang memperkuat kualitas pelaksanaan program.
Data hasil survei ini akan digunakan sebagai baseline dalam penyusunan Profil Ekosistem Mangrove Desa Batang Sari, mendukung perumusan Peraturan Desa Mangrove dan Perikanan, serta menjadi dasar dalam perencanaan Rencana Kerja Perhutanan Sosial (RKPS) Lembaga Desa Pengelola Hutan (LDPH) Desa Batang Sari.
Penutup
Melalui pendekatan berbasis data, partisipatif, dan inklusif, kegiatan survei ini menjadi langkah awal yang penting dalam memastikan pengelolaan mangrove Desa Batang Sari berjalan secara berkelanjutan. Yayasan Mitra Insani berkomitmen untuk terus mendukung upaya perlindungan dan pemulihan ekosistem pesisir sebagai bagian dari kontribusi nyata terhadap ketahanan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Oleh: Hendri Susilo





