Merajut Asa dari Sagu Rendang: Kisah Kelompok Perempuan Al-Muhajidin

“bagi kami disini sagu masih jadi makanan pokok pengganti nasi. Keberadaan sagu masih banyak dijumpai di kampung sebelah. Kami tidak pernah membayangkan bahwa sagu bisa bisa di olah jadi sumber penghasilan bagi keluarga.”

Kalimat tersebut menjadi awal kisah Kelompok Perempuan Almuhajidin Desa Batang Sari, sebuah desa pesisir yang dikelilingi hamparan hutan mangrove Kabupaten Indragiri Hilir.

Berbekal semangat untuk mencari alternatif mata pencarian, mereka merajut asa baru lewat sepotong keripik, bukan keripik ubi atau pisang yang umum dijumpai, melainkan keripik sagu berbahan sagu rendang.  Hasil olahan pati sagu yang melalui proses pengendapan dan pengeringan secara tradisional.

Bagi masyarakat pesisir, sagu telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kini, melalui inovasi dan kreativitas kelompok perempuan, sagu rendang diolah menjadi keripik yang tidak hanya memiliki cita rasa khas, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi potensi lokal serta membuka peluang peningkatan ekonomi keluarga.

Proses Pembuatan

“Kuncinya ada pada kebersihan dan kekeringan sagu, Ini sagu yang kita gunakan kualitas bagus warnanya putih” ujar Bu Zaunah Ketua Kelompok Al-Muhajidin sambil mengayak butiran sagu. “Kalau sagunya lembap, keripiknya tidak akan renyah dan cepat tengik”

Sagu rendang kemudian dicampur dengan bumbu-bumbu sederhana seperti bawang putih halus, ketumbar, sedikit tepung, garam, dan penyedap alami resep yang telah diwariskan turun-temurun. Lalu, air ditambahkan sedikit demi sedikit sambil adonan diaduk hingga memiliki tekstur yang lembut dan tercampur dengan sempurna.

Tidak ada mesin modern yang mendominasi pada proses produksi ini, sebagian besar proses masih dilakukan secara gotong royong menggunakan peralatan dapur sederhana. Di sela-sela mengaduk adonan, terdengar canda dan tawa para anggota kelompok yang membuat suasana produksi terasa hangat dan penuh kebersamaan.

Setelah adonan siap, adonan ditumis tanpa minyak sampai menggental. Adonan di pipihkan menggunakan alat penggiling manual menjadi lembaran tipis dengan ketebalan yang seragam agar matang secara merata. Lembaran tersebut kemudian dipotong sesuai ukuran yang diinginkan.

Potongan adonan dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering. Pada tahap ini, cuaca menjadi faktor yang sangat menentukan. Saat matahari bersinar terik, proses pengeringan dapat berlangsung lebih cepat dan menghasilkan keripik yang renyah. Sebaliknya, ketika hujan turun, waktu penjemuran menjadi lebih lama sehingga kelompok harus menyesuaikan jadwal produksi.

“Tanpa penjemuran kerupuk sudah bisa di goreng tetapi hasilnya tidak serenyah pengeringan dengan sinar matahari. Kami belajar untuk hasil yang bagus tidak bisa terburu-buru” jelas Tuti Ruyani anggota kelompok sembari menyusun potongan keripik sagu.

Setelah kering, keripik siap digoreng menggunakan minyak panas bersuhu stabil hingga mengembang dan berwarna keemasan. Aroma gurih langsung memenuhi ruangan, menandakan keripik telah matang. Setelah ditiriskan dan didinginkan, keripik dikemas dalam kemasan yang rapi agar kualitas dan kerenyahannya tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen.

kalau mau dimakan tanpa digoreng juga enak, jadinya makanan sehat. Apalagi untuk orang tua yang giginya sudah tidak kuat lagi. Tetapi untuk daya simpannya jadi sebentar” canda buk Zaunah disela proses pengemasan produk

Perjalanan kelompok Almuhajidin ini tentu tidak selalu berjalan mulus. Pada awal merintis usaha, mereka harus beberapa kali mencoba hingga menemukan komposisi adonan yang tepat agar menghasilkan keripik yang renyah dan memiliki cita rasa yang konsisten.

Ada kalanya keripik gagal mengembang, terlalu keras, atau bahkan patah saat dikemas. Namun, kegagalan tersebut justru menjadi proses belajar yang memperkuat kekompakan kelompok. Mereka saling bertukar pengalaman, mengevaluasi setiap proses produksi, dan terus melakukan perbaikan hingga menghasilkan produk yang berkualitas.

Salah satu pencapaian yang paling membanggakan adalah ketika keripik sagu berbahan sagu rendang berhasil memperoleh sertifikat halal. Sertifikasi ini bukan hanya menjadi pengakuan bahwa produk diproses sesuai standar yang ditetapkan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperluas peluang pemasaran.

Bagi anggota kelompok, sertifikat halal menjadi bukti bahwa produk rumahan yang mereka rintis mampu berkembang menjadi produk yang memenuhi standar dan layak dipasarkan kepada masyarakat yang lebih luas.

“Yang paling kami syukuri bukan hanya keripiknya laku terjual, tetapi kami sekarang punya kegiatan yang menghasilkan. Dari sini kami bisa membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, produk kami disukai orang” ungkap salah seorang anggota kelompok sambil memperlihatkan kemasan keripik yang siap dipasarkan. Baginya, setiap bungkus keripik bukan sekadar makanan ringan, melainkan hasil kerja keras, kebersamaan, dan harapan yang dibangun bersama seluruh anggota kelompok.

Selain meningkatkan keterampilan produksi, para anggota kelompok juga mulai belajar mengelola usaha secara lebih profesional. Mereka membagi tugas sesuai kemampuan masing-masing, mulai dari menyiapkan bahan baku, proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran. Pendampingan yang mereka terima tidak hanya mengajarkan cara membuat produk yang baik, tetapi juga pentingnya menjaga kualitas, membangun identitas produk, serta memperluas akses pasar agar usaha yang dirintis dapat berkembang secara berkelanjutan.

Kini, setiap kemasan keripik sagu yang dipasarkan membawa lebih dari sekedar produk olahan pangan, ia merupakan simbol keberhasilan pemberdayaan perempuan pesisir dalam mengubah potensi lokal menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.

Berawal dari dapur sederhana di Desa Batang Sari, semangat belajar, kerja sama, inovasi, dan pendampingan yang berkelanjutan telah melahirkan peluang usaha yang tidak hanya meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga memperkuat kemandirian perempuan serta ketahanan ekonomi masyarakat pesisir.

(Kegiatan yang didukung oleh OCEAN (Ocean Community Empowerment and Nature Programme), didanai oleh UK International Development di tahun 2024-2027)

Penulis: Dhifa_Officer Media dan Komunikasi Yayasan Mitra Insani

Bagikan ke :