
Hari mangrove sedunia, dengan sebuah pengumuman:“Pendaftaran Putra-Putri Mangrove 2025 Resmi Dibuka!” hal yang sangat ditunggu dengan antusias tinggi oleh para generasi muda yang ingin mengambil peran dalam pelestarian lingkungan, khususnya ekosistem mangrove.
Pendaftaran dilakukan secara daring, sehingga peserta dari berbagai daerah dapat berpartisipasi dengan mudah. Dalam formulir tersebut, calon peserta diminta mengisi data diri, motivasi mengikuti kegiatan, serta pengetahuan mengenai ekosistem mangrove.
Tibalah saat mendebarkan: seleksi wawancara. Satu per satu peserta masuk ruangan wawancara, duduk di depan juri, dan menjawab berbagai pertanyaan. Topiknya seru: ada soal ekosistem mangrove, isu lingkungan yang lagi hangat, sampai keterampilan public speaking.
Wawancara ini tidak hanya menilai wawasan, tetapi juga kepercayaan diri dan kemampuan peserta dalam menyampaikan gagasan dengan jelas. Banyak yang gugup di awal, namun suasana hangat dari para dewan juri membuat proses ini menjadi pengalaman berharga sekaligus pembelajaran. akhirnya terpilihlah 10 pasang putra-putri terbaik. Mereka bukan hanya pintar bicara, tapi juga punya semangat nyata untuk peduli pada pesisir.




Pembekalan
Lalu dimulailah masa pembekalan intensif selama 3 hari.Suasana pembekalan berlangsung penuh semangat. Pada hari pertama, finalis mendapatkan materi public speaking, yang melatih mereka berbicara di depan publik dengan percaya diri, lugas, dan menyentuh hati. Tergambar suasana ruangan ada yang serius mencatat, ada pula yang saling memberi semangat saat diminta praktek public speaking didepan teman-temannya.
Latihan ini bukan sekadar teknik bicara, tapi juga mengajarkan bagaimana menyampaikan pesan lingkungan agar bisa merangkul semua orang tanpa terkecuali. Dilanjutkan dengan memperkenalkan pada konsep GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion), agar sebagai calon duta lingkungan mereka memahami pentingnya kesetaraan dalam gerakan pelestarian.
Hari kedua, mereka diajak lebih dalam mengenal ekosistem mangrove. Materinya penuh ilustrasi, fakta menarik ekosistem mangrove, fungsi mangrove secara ekologi dan ekonomi, perannya sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati, hingga kaitannya dengan mitigasi perubahan iklim, sampai diskusi kecil tentang ancaman kerusakan lingkungan.
Setelah itu, finalis diminta menyusun rencana tindak aksi: peserta dibagi ke dalam kelompok kecil merancang kegiatan nyata kampanye menjaga ekosistem mangrove. Ide-ide kreatif bermunculan, mulai dari kampanye digital peduli mangrove, pengolahan limbah berbasis masyarakat, hingga program edukasi lingkungan untuk sekolah-sekolah di pesisir.
Sesi siang menjadi puncak keseruan: turun langsung ke lapangan mengenal mangrove lebih dekat. Mereka berjalan menyusuri jembatan kayu dan akar mangrove. Sesekali terdengar tawa ketika ada yang hampir terpeleset, tapi justru itulah yang membuat mereka semakin akrab.
Para finalis mengunjungi posko penjagaan hutan yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) untuk mengetahui peran masyarakat dalam menjaga kawasan hutan. Dari sini, mereka belajar secara nyata bagaimana menjaga hutan mangrove bukan sekadar wacana, tetapi membutuhkan aksi nyata, gotong royong, dan kepedulian berkelanjutan.

Hari terakhir pembekalan menandakan waktu perpisahan semakin dekat. Waktu penentu kelayakan menjadi seorang putra-putri mangrove 2025. Dimulai dengan sesi penyampaian visi dan misi, setiap finalis diberikan kesempatan untuk berbicara di hadapan dewan juri.
Finalis menyampaikan pandangan, gagasan, serta rencana nyata terkait pelestarian mangrove, baik melalui kampanye kreatif, aksi komunitas, maupun inovasi sosial. Sesi ini menjadi momen penting untuk menilai seberapa besar kepedulian dan ketajaman mereka dalam melihat isu lingkungan pesisir.
Selanjutnya adalah penjurian akhir, dalam sesi ini para juri menggali lebih dalam kemampuan berpikir kritis, pengetahuan, kepemimpinan, kemampuan komunikasi, hingga sikap dan kepribadian para finalis. Proses ini menentukan siapa yang layak menyandang gelar Putra-Putri Mangrove 2025 dan Putra-Putri Favorit mangrove 2025 sekaligus menjadi wajah muda yang akan menjadi duta pelestarian mangrove.
Sesi yang di tunggu-tunggu, Penampilan Bakat. Malam harinya suasana berubah meriah dengan penampilan bakat para finalis. Dalam sesi ini, setiap finalis menampilkan bakat yang tak hanya menunjukkan kemampuan seni, retorika, atau inovasi mereka, tetapi juga menyuarakan kepedulian terhadap isu-isu lingkungan, khususnya pelestarian ekosistem mangrove.
Mulai dari penampilan puisi, musik, teater bertemakan lingkungan, hingga presentasi edukatif, semuanya dikemas dengan pesan-pesan inspiratif yang mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan terlibat dalam aksi nyata penyelamatan lingkungan pesisir. Sorak-sorai penonton dan tepuk tangan meriah menjadi bukti bahwa generasi muda tidak hanya berwawasan, tetapi juga penuh talenta.

Malam Puncak Penobatan Putra-Putri Mangrove 2025
Setelah melalui rangkaian panjang mulai dari pendaftaran, wawancara, hingga pembekalan intensif, tibalah saat yang paling ditunggu oleh para finalis: malam puncak penobatan Putra-Putri Mangrove 2025. Malam itu, suasana venue yang dipenuhi dekorasi bertema ekosistem mangrove tampak begitu megah dan anggun seolah menggambarkan harapan akan masa depan yang hijau. Lampu sorot menyoroti panggung utama.
Para finalis bersiap untuk menampilkan parade terbaik dengan tampil memukau dengan busana khas melayu yang dipadukan sentuhan khas pesisir. Satu per satu mereka memasuki panggung dengan senyum penuh percaya diri, melambaikan tangan kepada penonton yang memberi sambutan hangat. Tak hanya keluarga dan sahabat, tetapi juga tokoh masyarakat, komunitas lingkungan, serta perwakilan pemerintah daerah turut hadir menyaksikan momen bersejarah ini.
Sesi penobatan ini diberikan kepada Putra-putri Mangrove 2025, Putra-Putri Mangrove Favorite 2025 dan Putra-Putri Mangrove Berbakat 2025. Ketika nama Putra dan Putri Mangrove 2025 disebutkan, sorak-sorai dan tepuk tangan membahana di seluruh penjuru. Kedua pemenang, dengan wajah penuh haru, melangkah maju ke panggung. Mereka kemudian dikalungkan selempang penghargaan dan penyerahan plakat penghargaan yang melambangkan amanah besar untuk menjadi teladan dalam gerakan pelestarian lingkungan.
Dalam pidato singkatnya, Putra dan Putri Mangrove 2025 menyampaikan rasa syukur sekaligus janji mereka untuk menggunakan suara dan peran ini demi mengajak lebih banyak anak muda mencintai ekosistem mangrove. “Menjaga pesisir bukan hanya tugas hari ini, tetapi investasi untuk masa depan,” ujar mereka lantang, disambut tepuk tangan meriah.
Kemeriahan acara malam ini di tutup dengan sesi foto bersama. Walau tidak semua menjadi pemenang, namun semangat dan perjalanan seluruh peserta menjadi bukti bahwa generasi muda siap tampil di garis depan perjuangan menjaga lingkungan.





