TATA KELOLA EKOSISTEM MANGROVE BERKELANJUTAN BERBASIS MASYARAKAT DI KABUPATEN INDRAGIRI HILIR

Indonesia memiliki ekosistem mangrove dengan luas 3,63 juta hektar atau 20,37% mangrove dunia, yang  tersebar di 8 pulau besar di Indonesia. Ekosistem mangrove memiliki potensi tinggi sebagai cadangan karbon, karena kemampuan vegetasi pesisir ini dalam menyerap karbon, yang artinya mampu menurunkan emisi di era perubahan iklim yang sedang terjadi sekarang.

berdasarkan hasil penelitian, ekosistem Mangrove memiliki fungsi sebagai benteng kehidupan di wilayah pesisir, hutan bakau yang masih baik mampu menahan laju abrasi pantai dan intrusi air asin. selain itu nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat  dari hasil perikanannya.

Kabupaten Indragiri Hilir menjadi kabuapten yang memiliki ekosistem mangrove terluas di provinsi riau, dengan luasan sekitar 131.658 hektar dari total luasan keseluruhan  224.895 hektar. Ekosistem mangrove memiliki banyak potensi yang dapat menunjang kehidupan manusia,  baik dari pemanfaatan hasil hutannya dan juga hasil perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Berlimpahnya hasil sumber daya alam tersebut juga tidak luput dari ancaman kerusakan, hal ini disebabkan oleh faktor kondisi sosial ekonomi dan juga alih fungsi Kawasan hutan mangrove yang tidak terkendali.

Tampak dari Udara Salah Satu Ekosistem Mangrove di Kecamatan Kuala Indragiri Kabupaten Indragiri Hilir

Herbet selaku Direktur Yayasan Mitra Insani menyebutkan bahwa YMI melihat bagaimana pentingnya ekosistem mangrove dengan livelihood masyarakat yangada di Kabupten Indragiri Hilir khususnya masyarakat nelayan dan masyarakat petani kelapa.

“Kita YMI memulai atau melihat arti penting ekosistem mangrove itu sejak di 2012-2013, Dan kita mengatakan bahwa mangrove itu merupakan hal yang sangat penting bagi wilayah pulau-pulau pesisir yang ada di Indragiri Hilir untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang sumber-sumber penghidupan masyarakat disana” Ujar Herbet.

Yayasan Mitra Insani menyadari bagaimana ancaman itu nyata terjadi, dan masyarakat juga berpendapat sama dan setuju bahwa itu mestilah ada semacam upaya yang harus dilakukan, salah satu upaya yang telah di lakukan adalah dengan memastikan keberlanjutan hak Kelola kawasan pesisir yang di akui negara dengan skema Perhutanan Sosial. Terdapat 4 desa yang teah di fasilitasi oleh YMI untuk Hak Kelola Perhutanan Sosial melalui skema Hutan desa, yaitu Kelurahan Sapat, Des Perigi Raja,Desa Tanjung Melayu dan Desa Sungai Piyai.

“Kedepannya kita akan melakukan upaya hal yang sama untuk dua desa berikutnya yaitu Des Pulau cawan dan Desa Igal” Tambah Herbet.

Budi Susanto selaku GIS Yayasan Pesisir Lestari mengatakan bahwa mangrove adalah ekositem yang unik, dimana ekosistem ini merupakan peraliaha  dari ekosistem daratan ke ekosistem perairan laut, sehingga ia memiliki peran penting sebagai penyeimbang diantara dua ekosistem ini. Terdapat tiga fungsi besar, yaitu fungsi ekologis, fungsi biologis dan fungsi ekonomi

“Kita sudah melakukan banyak-banyak pendampingan ditingkat masyarakat agar bisa mewujudkannya, sebagai contoh adalah misalkan di dalam program yang dilakukan oleh korsorsium di bidang perikanan kita mencoba mendampingi masyarakat dalam pengelolaan perikanan berupa pengelolaan kepiting sehingga masyarakat nelayan Kepiting itu bisa bisa merasakan bahwa dengan adanya mangrove tersebut mereka tidak akan kehilangan mata pencaharian untuk sampai seterusnya atau sustainable” Ujar Budi Susanto

Ia juga menambahkan bahwa selain berbicara nilai ekonomi, didalam aktifitas program ini juga fokus kepada Kesehatan masyarakat, dengan harapan bahwa mangrove bisa lestari dan masyarakat juga sejahtera serta sehat lahir dan batin.

Ekosistem Mangrove, Habitat Kepiting Bakau & Temporary Closur

Ekosistem mangrove kabupaten inhil merupakan zona transisi antara lingkungan sungai dan lingkungan laut dengan kesuburan perairan paling produktif,akan tetapi juga tidak lepas dari ancaman kerusakan akibat alih fungsi Kawasan dan eksploitasi berlebihan. Penebangan kayu bakau secara besar – besaran dan pengracunan dalam penangkapan ikan adalah faktor pendukung degradasi lingkungan pesisir.

Kondisi ini juga berdampak kepada salah satu komoditi hasil perikanan berupa Ketam atau kepiting bakau yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat nelayan tangkap kepiting bakau. Kepiting Bakau dapat ditemukan di Perairan yang terlindung yang tanahnya terbuka saat air surut. Ekosistem mangrove yang sehat menjadi tempat yang ideal untuk mencari makan dan sebagai tempat pembuahan terjadi. Berdasarkan data yang dihimpun selama aktifitas program, kabupaten Indragiri hilir memiliki semua jenis kepiting bakau yang ada di dunia. Yaitu Scylla Serrata, Scylla Paramamosain, Scylla Tranquebarica dan Scylla Olivacea.

Kepiting Bakau yang Siap di Disitribusikan

Selama Desember 2021 hingga Juli 2022 hasil tangkapan kepiting dari dua Desa yaitu Kelurahan Sapat dan Desa Perigi Raja mencapai 2,7 Ton dengan nilai transaksi Rp.196.449.500. Kondisi ini belum mencapai pada terbaik, dikarenakan ukuran tangkapan kepiting bakau yang belum mencapai standar untuk harga yang lebih tinggi.

“Salah satu permasalahan yang paling besar adalah penggunaan racun terutama. Penggunaan bahan kimia racun itu masih cukup marak bahwa kita tidak bisa bohong bahwasanya itu masih berpengaruh ke perikanan kepiting juga. Yang kedua mungkin yang bisa saya katakan berdasarkan data yang kita miliki permasalahan yang paling utama itu adalah jenis atau kategori tangkapan nelayan itu masih dalam kategori yang kecil kalau berdasarkan undang-undang masih belum legal untuk diperjualbelikan sebenarnya” Ujar M. Rukim Fisheries Officer Yayasan Mitra Insani

Rukim juga menambahkan bahwa dengan melihat kondisi tersebut makan disepakatilah bersama masyarakat bahwa untuk meningkatkan hasil dari kepiting bakau maka mestilah dilakukan penutupan sementara sebagai bentuk tabungan bagi para nelayan kepiting untuk dapat kembali menangkap kepiting dengan ukuran yang sesuai dengan kondisi permintaan pasar. Sebagai hasil dari kesepakatan terdapat 22, 3 hektar kawasan yang telah dijadikan lokasi penutupan sementara yang secara sadar dan disepakati bersama nelayan dan pemuka masyarakat tempatan.

Kebun Kelapa Yang Rusak Akibat Intrusi Air Asin

Lokasi yang dijadikan sebagai tempat penutupan merupakan kebun kelapa yang rusak, yang sekarang dijadikan kawasan tangkap kepiting bagi masyarakat, berada di Parit 18 Kelurahan sapat. Andi Masrafi, salah satu pengepul kepiting di Parit 18 ini mengatakan bahwa semenjak kebun rusak banyak yang beralih menjadi nelayan kepiting bakau, disamping memang secara nilai jual kepiting cukup menjanjikan.

“setelah kita mendapatkan banyak pengetahuan dari program ini, kita jadi tahu bagaimana menjaga keberlanjutannya, sekarang kita kalo dapat kepiting yang ukuran kecil kita lepas kembali, setelah 3 bulan kemudian baru kita tangkap kembali” ujar Andi Masrafi

“penutupan ini kita sangat mendukung, malah kita menanam kembali mangrove didalamnya, sebelum ini kita tidak tahu soal mangrove, asal tebang saja, setalh kita diajarkan bagaimana pentingnya mangrove, kami jadi sangat menyayani mangrove, artinya penting dan sekarang sangat berharga bagi kami” Tambahnya.

Konsep penutupan sementara ini telah dilakukan sebelumnya oleh Kelompok Masyarakat Pengawas Suka Damai Kelurahan Sapat, inisiatif ini mereka jalankan Ketika berkegiatan bersama Yayasan Mitra Insani di jalur menuju kawasan Hutan Desa Sapat.

“Terdapat sekitar 2000 meter persegi dari kuala besira sampai parit 10, sampai ke posko jaga kawasan yang kami lakukan penutupan” Ujar Selamat selaku anggota POKMASWAS.

“ sebelumnya wilayah itu sangat kuat meracunnya dari arah sungai anak batang, ini sudah jalan satu setengah tahub berlangsung kita tutup, secara hasil karena tidak lagi di racun, udang besar banyak, ikan pun juga akhirnya banyak, dulu sebelum kita tutup kita cuma sekali – sekali panennya, tapi kalo sekarag kitab isa panen tiap hari” Tambah Selamat.

Pento, Alat Tangkap Kepiting Bakau Yang Ramah Lingkungan

Seorang nelayan memegang Pento atau Alat Tangkap Kepiting

Bicara metode penangkapan kepiting bakau, nelayan menggunakan alat tangkap yang disebut dengan “pento”. berbentuk tabung silinder mengkrucut pada bagian atas dan bawahnya serta dua lubang disisi dindingnya sebagai jalan masuk kepiting yang disebut dengan injab, pento juga dibuat dengan bahan yang cukup sederhana yakni jaring, bambu dan tali, serta kayu kecil dengan panjang 1,5 meter digunakan sebagai pancang.

Berdasarkan Kementrian Kelautan Perikanan Republik Indonesia,yang mengacu pada FAO bahwa alat tangkap ini tergolong dalam jenis perangkap yang ramah lingkungan.

Harga Dan Pendataan Kepiting

Nilai harga kepiting bakau dipengepul terdiri dari kategoridari kelas A Super 1 sampai dengan kelas C, berdasarkan berat kepiting.

Untuk Kelas A super 1 dengan berat > 1 kg dihargai Rp. 200.000 – 250.000,

 A super 2 dengan berat 7 – 9,9 Ons dengan harga Rp. 150.000 – 170.000,

Kelas A (5 – 6,9 Ons) dengan harga Rp. 135.000 – 145.000,

A Tanggung ( 3,5 – 4,9 Ons) dengan harga Rp. 80.000 – 100.000,

B (2,4 – 3,4 ons) dengan harga Rp. 70.000 s/d Rp. 75.000

Kelas C (<1 – 2,4 Ons) dengan harga Rp.35.000 – 40.000.

Keptign bakau yang didapat, kemudian di data secara manual kemudian dimasukan kedalam system pandataan secara digital. Proses ini adalah bagian dalam program dengan menunjuk enumerator di desa pengahsil kepiting bakau. Proses pendataan juga tidak hanya soal angka, akan tetapi para enumerator juga di ajarakan bagaimana mengidentifikasi jenis dari kepiting bakau yang di tangkap oleh para nelayan kepiting.

Kepiting Bakau didistribusikan oleh pengepul tingkat desa ke pengepul di tingkat kecamatan. Permintaan pasar kepiting bakau selain pasar lokal, juga di ekspor ke singapura dan Malaysia.

Kepiting Bakau yang telah di data dan siap untuk di distribusikan

Dalam aktifitas program juga tidak lepas pelibatan aktif pemerintah lokal, secara administratif, pemerintah desa – desa intervensi program ini sangat mendukung karena sangat sesuai dengan regulasi yang ada didesa.  Menurut Ahmad Riyadi selaku Lurah Sapat mengatakan bahwa kegiatan restorasi ini sangat bagus, terutama untuk merubah pola piker masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem mangrove ini, kemudian tidak saja hanya memanfaatkan hasil hutan kayu, tetapi hasil hutan bukan kayu yang sebenarnya sangat berpotensi untuk dapat terus dijaga dan dikebangkan.

“harapan kami bahwa kerja baik ini dapat menjadi gagasan bagi pemerintah untuk dapat membuat kebijakan dan program yang bisa ditularkan untuk desa atau daerah – daerah lain, sebagai pembelajaran bahwa bagaiamana kelestarian lingkungan yang terjaga juga akan membawa peningkatan ekonomi bagi masyarakatnya” ujar Ahmad Riyadi.

Kita menyadari bahwa kelestarian alam adalah investasi jangka Panjang yang dapat menjamin keberlangsungan kehidupan manusia. Kita berharap bagaimana ekologi dan ekonomi dapat berjalan berdampingan. Hal ini mestilah akan tercapai dengan keterlibatan aktif multipihak untuk dapat Bersama mewujudkannya

*RH

Leave a Comment

Your email address will not be published.