Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/mitrains/public_html/wp-content/plugins/essential-grid/includes/item-skin.class.php on line 1422

Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/mitrains/public_html/wp-content/plugins/revslider/includes/operations.class.php on line 2858
STORY – Selamatkan Pemukiman dari Abrasi, Perjuangan Junaidi Ubah Lahan Gundul Jadi Ekowisata Riau | Yayasan Mitra Insani

STORY – Selamatkan Pemukiman dari Abrasi, Perjuangan Junaidi Ubah Lahan Gundul Jadi Ekowisata Riau

STORY – Selamatkan Pemukiman dari Abrasi, Perjuangan Junaidi Ubah Lahan Gundul Jadi Ekowisata Riau
STORY – Selamatkan Pemukiman dari Abrasi, Perjuangan Junaidi Ubah Lahan Gundul Jadi Ekowisata Riau
Foto Oleh : Dok. Tribun Pekanbaru | Junaidi

Kampung itu nyaris terendam. Ombak laut terus mengikis tebing yang menjadi batas ke pemukiman.

Jika Junaidi terlambat menanam pohon, mungkin sudah puluhan rumah yang hanyut akibat abrasi.

Junaidi merupakan penduduk asli Kampung Sungai Rawa, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau. Usianya sudah memasuki angka 50 tahun.

Ancaman abrasi di kampung itu memaksanya untuk tidak kembali merantau ke Tanjung Pinang, sebelumnya Malaysia dan Jakarta, 2002 silam.

Junaidi mengerahkan perhatiannya ke bibir pantai yang nyaris merenggut rumah familinya. Sekarang jarak rumah itu dengan bibir pantai tinggal sekitar 40 meter lagi.

Foto Oleh : Dokumentasi YMI | Ekowisata Mangrove Sungai Rawa

Sudah 12 tahun lamanya memperbaiki garis pantai yang rusak akibat kegundulan hutan. Ia berjuang mengajak warga sekitar menanam pohon.

Kini, berbagai jenis mangrove yang ditanami sudah tumbuh lebat. Bahkan sudah menjadi benteng pertahanan pergeseran garis pantai dari ancaman ombak pasang.

Kampung itu berada di pesisir Kabupaten Siak, tepian Selat Panjang.Tepatnya kampung Sungai Rawa, Kecamatan Sungai Apit.

Garis pantainya berhadapan langsung dengan Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti.

Rabu-Kamis (21-22/8/2019), Tribunsiak.com menjumpai Juanidi di kawasan itu, bersama rombongan Media Trip program tata kelola hutan dan lahan untuk mengurangi emisi di Indonesia, melalui Kegiatan Lokal, yang diselenggarakan Konsorsium Mitra Insani (YMI). Kawasan yang dulu mengancam pemukiman warga kini disulap menjadi ekowisata.

“Lebih 100 meter daratan yang sudah terkikis abrasi. Beberapa pusara tetua kami di sini ada yang terendam,” kata pria sederhana itu.

Sejak 12 tahun lalu, pria yang hanya tamatan SMP ini sudah memikirkan bagaimana caranya menghambat abrasi.

Sambil memancing ikan, ia melihat ada kawasan yang tidak terkena abrasi. Ia mempelajarinya, kenapa beberapa titik kawasan tidak runtuh?

“Yang terkikis kawasan gundul, sedangkan yang ditumbuhi pohon-pohon tidak sama sekali. Karena itu saya mulai menanam sejumlah jenis mangrove,” kata Junaidi.

Ia mencoba mencari bibit di sekitaran pantai itu untuk ditanami secara terus menerus. Banyak yang tumbuh subur ada juga yang tidak.

Baru awal 2009 ia mendapat bantuan 80.000 bibit mangrove dari luar negeri.

Pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2016, ia juga dapat bantuan bibit sebanyak 25.000 bibit dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pihak KLHK juga menjanjikan memberikan honorarium untuk penanaman bibit itu.

Setelah Junaidi mengajak warga kampung untuk menanam bibit itu di Sungai Rawa, honorarium yang dijanjikan tidak kunjung keluar dari kementrian, sampai sekarang.

“Ya saya harus keluarkan uang Rp18 juta untuk membayar upah penanaman, sebagaimana dijanjikan sejak awal,” kisah dia.

Kawasan itu sebenarnya milik pemerintah. Pada 2017, ia diberikan izin oleh pemerintahan kampung (Desa) Sungai Rawa untuk mengelolanya menjadi ekowisata mangrove, seluas lebih kurang 5 Ha. Kawasan inilah yang paling rawan dihantam abrasi.

Bibit-bibit mangrove yang ditanam itu kini sudah rimbun. Sedikitnya, kawasan itu menyimpan 36 jenis mangrove.

Bakau paling dominan, selain banyak tumbuhan air, seperti api-api dan perpat. Jika dihitung, ternyata Junaidi sudah menanam 200.000 lebih pohon mangrove.

“Sejak 2017 mendapat izin dari desa kami membangun track (jembatan kayu), gazebo dan menara pantau dan 2 toilet,” kata dia.

Panjang track yang sudah dibangun 700 meter. Ada yang dibuat menjorok ke arah laut ada juga yang membelah rerimbunan hutan mangrove.

Kawasan yang dulu gundul dan mengancam kini menjadi hamparan hutan mangrove yang menakjubkan. Ekosistem kehidupan kembali tumbuh dengan baik.

Biota laut kembali berkembang biak, dari beragam jenis ikan, ular hingga buaya. Hasil produksi nelayan setempat juga semakin melimpah.

Sedangkan di hutan mangrove tersebut juga didatangi beragam jenis burung, dan tumbuhan.

“Ada angrek juga yang tumbuh di sini. Tapi belum diteliti, itu jenis dan nama latinnya apa,” kata Junaidi.

Selain itu, ekowisata Sungai Rawa juga telah memberi peluang baru bagi warga sekitar. Pada hari-hari libur, kawasan itu menjadi salah satu tempat favorit warga.

Karcis untuk sepeda motor dibandrol Rp 5.000 dan mobil Rp 10.000. Pada libur lebaran Idul Fitri 2019, pengelola berhasil meraup untung mencapai Rp 2 juta per hari.

“Kendalanya memang kita kekurangan dana. Karena track yang rusak harus diperbaiki. Gelondongan kayu akasia milik perusahaan tertumpah di kawasan itu,” kata dia.



Artikel ini telah tayang di Tribunpekanbaru.com dengan judul STORY – Selamatkan Pemukiman dari Abrasi, Perjuangan Junaidi Ubah Lahan Gundul Jadi Ekowisata Riau, https://pekanbaru.tribunnews.com/2019/08/23/story-selamatkan-pemukiman-dari-abrasi-perjuangan-junaidi-ubah-lahan-gundul-jadi-ekowisata-riau?page=all.
Penulis: Mayonal Putra
Editor: Ariestia

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Be informed!

Sign up for newsletter