PETANI KEREN TANPA BAKAR LAHAN

PETANI KEREN TANPA BAKAR LAHAN
PETANI KEREN TANPA BAKAR LAHAN

Petani Itu Keren” ucap Bang Dati saat di jumpai di kebun cabe miliknya. Dia dalah satu dari 100 peserta Sekolah lapang Pertanian Gambut (SLPG) Tanpa Bakar yang di fasilitasi oleh Yayasan Mitra Insani yang di dukung oleh BRG & UNOPS. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman petani yang ada di kawasan gambut untuk melakukan aktifitas pertanian tanpa harus membakar lahan seperti yang telah dilakukan sebelumnya yang telah menjadi kebiasaan masyarakat, hal ini juga upaya &  solusi dari penanganan & pengurangan resiko terjadinya kebakaran lahan dan hutan di area yang berpotensi timbulnya kebakaran.

Berbicara tentang kebakaran pada tahun 2015 merupakan puncak kebakaran hebat yang terjadi provinsi riau, asap yang timbul mengakibatkan lumpuhnya banyak aktifitas dan perekonomian di tambah lagi dampak buruk bagi kesehatan masyarakat. Pada akhirnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan pelarangan membakar lahan, dan ini juga berdampak pada aktifitas petani yang biasanya membakar lahan sebelum melakukan aktifitas penanaman.

Kondisi  ini tentu menjadi tantangan bagi banyak pihak dalam menemukan solusi agar pemanfaatan kawasan sebagai lahan pertanian tetap terus dapat berjalan. Yayasan Mitra Insani melalui dukungan Badan Restorasi gambut dan UNOPS ( United Nation Office for Project Services ) telah melakukan aktifitas peningkatan Petani di desa melalui SLPG.


Para Peserta Pelatihan SLPG saat praktek pengolahan lahan Gambut

Terdapat 10 kelompok tani dari setiap desa yang tersebar di 3 Kabupaten di Provinsi Riau, antara lain Kabupaten Rokan Hilir ( Desa Labuhan Tangga Baru, Desa Sungai Sialang, Desa Sungai Sialang Hulu) Kabupaten Siak ( Kampung Rempak, Kampung Langkai, Kampung Rawang Air Putih)  Kabupaten Kepulauan Meranti ( Desa Tanjung Padang, Desa Putri Puyu, Desa Mekar Delima, Desa Selat  Akar).

Pengetahuan & Praktek

Peserta Pelatihan SLPG sedang mendapatkan Materi

Setiap kelompok di setiap desa diberikan pemahaman tentang apa itu ekosistem dan lahan gambut, mulai dari nilai ekologis sampai kepada dampak buruk jika salah dalam pengelolaan dan pemanfaatan lahan gambut. Kembali kepada Bang Dati Surya sebagai petani di Kampung Rawang Air Putih kabupaten siak,  mendapatkan banyak tips & trik dari pelatihan, yang selama ini menjadi kendala dalam pemeliharan tanaman cabe dapat terjawab setelah dipraktekan di kebun miliknya. Penerapan ilmu yang dilakukannya adalah ramuan untuk pertumbuhan bunga cabe agar lebih kuat dan bagus serta tidak gampang rontok, selain itu juga telah menerapkan pupuk organik pada tanaman cabe nya.

Para peserta sedang mempraktikan pembuatan pupuk organik F1 Embio

Agus selaku Kerani (red : Sekretaris Desa) Kampung Rawang Air Putih Mengatakan bahwa pemerintahan desa sangat mendukung kelompok ini kedepannya, dan juga telah mengorganisir anak – anak muda di kampung untuk di ajarkan ilmu dan pengetahuan dari sekolah lapang dalam penanaman semangka.Selain itu, para peserta lainnya juga sudah memulai menguji tanaman – tanaman yang bisa ditanam di lahan gambut yang juga memiliki nilai ekonomi baik dipasaran.

Foto Tanaman Cabe yangsudah menggunakan pupuk dari pelatihan

Sama halnya dengan Pak Purnomo, seoarang peserta SLPG, petani dari Kampung Labuhan Tangga Baru Kabupaten Rokan Hilir yang saat ini sudah mencoba menerapkan ilmu yang di dapat dengan memanfaatkan lahan sela di antara tanaman sawit miliknya, pilihan tanaman nya adalah jahe merah. Dalam proses pengolahan dan penyiapan lahan, pak purnomo memilih posisi tanam memanjang dengan kondisi cahaya matahari tidak tertutup oleh daun sawit.

Purnomo di Demplot pertanian Jahe Merah

“jahe merah ini cukup baik harganya di pasaran, perawatannya tidak begitu rumit dan yang jelas tidak banyak hama yang akan menyerang seperti babi yang cukup banyak disini” ujar Purnomo.

Purnomo telah mulai melakukan pertanian di lahan gambut pada awal tahun 2000 dengan tanaman cabe, jagung, labu, terong yang di awal pembukaan lahannya dibakar. Proses ini juga disadari bahwa tidak terlalu bagus karena hasil yang di dapat pada penanaman selanjutnya tidak sebaik pada penanaman di awal.

Dari pengalaman yang di dapat purnomo, 3 tahun terakhir tidak lagi membakar, ia melakukan pembersihan atau pembukaan lahan semak dengan metode yang ia dapati secara pengalaman yaitu dengan menumbangkan rumput semak tanpa di tebas dan kemudian di semprotkan racun rumput. Metode ini dianggap baik bagi purnomo karena rumput semak akan mati hingga ke akar – akarnya di bandingkan dengan menebas kemudian baru di semprot racun. Setelah rumput semak menjadi kering dia tidak lagi membakar karena hal itu sengaja agar menjaga kelembapan tanah, hanya bagian yang akan di tanami saja yang mesti dibersihkan.

Pemahaman yang telah ada dengan di tambah pengetahuan dari sekolah lapang makin membuat Purnomo bersemangat untuk terus menerapkan pertanian tanpa bakar. “ sampai saat ini dengan lahan yang ada, jahe merah akan saya tanam dengan pupuk dan metode pengolahan lahan yang di dapatkan dari pelatihan semoga bisa mendaptakan hasil yang lebih baik” tambah Purnomo.

Optimalisai Lahan & Ketahan Ekonomi

Hampir setiap desa di riau memiliki Perkebunan sawit, baik milik masyarakat ataupun perusahaan, kondisi ini menimbulkan krisis lahan dibeberapa tempat. Kondisi ini di temukan di beberapa desa diwilayah terlaksana nya program peningkatan kapasitas petani di lahan gambut yang dilakukan Yayasan Mitra Insani. Memalui pelatihan SLPG cukup menjawab tantangan yang terjadi, peserta yang rata – rata adalah petani mendapat informasi dan pengetahuan tentang mengoptimalkan lahan yang tersedia.

Disamping itu, terdapat juga desa/kampung yang petaninya tidak mengolah lahan gambut karena sebagian areal mereka adalah tanah mineral / tanah liat. Pertanian selama ini lebih fokus ke lahan bukan gambut, sehingga lahan gambut yang ada ataupun yang tersisa tidak dimaksimalkan atau diolah sama sekali.

Wagio : Peserta Pelatihan SLPG memulai penyemaian jahe merah dengan media tanah gambut

 “dari pelatihan kemarin kita mengetahui bagaimana ternyata lahan gambut dapat di optimalkan jika memiliki pengetahuan, syukurnya dari pelatihan ini kita mengetahui ternyata lahan gambut memiliki nilai ekonomi yang bagus tanpa harus di rusak atau di bakar” ujar Pak Martadi.

Pak martadi merupakan peserta pelatihan dari Kampung rempak Kabupaten siak, yang mana selama ini melakukan praktek pertanian di lahan bukan gambut, sehingga dengan mendapatkan informasi dan pengetahuan dari SLPG ini bersama kelompok yang ada telah mulai mengelola lahan gambut yang ada.

Pembibitan Jahe Merah dengan Media Tanah Gambut dan Pupuk Orgamik F1 Embio

“sebagai contoh dan model pembelajaran kita menyiapkan demplot dengan pengolahan dan teknik yang kita dapati saat pelatihan, dengan ukuran demplot sekitar 20 x 20 m” ujar Pak Martadi.

“demplot ini kami olah dengan cara manual bersama – sama, meskipun terkendala secara teknis kami tetap terus berupaya” tambahnya.

Selama proses pelatihan 3 hari kelompok petani ini mendapatkan pengalaman baru, Sekolah Lapang ini dianggap baik karena tidak hanya mengajarkan teori saja, tetapi juga teknis lapangan serta yang terpenting tips & trik dalam pengolahan lahan, pembibitan dan perawatan tanaman.

Saat ini Pembibitan secara mandiri telah dilakukan oleh peserta kelompok, bibit yang dipilih menyesuaikan dengan tanaman yang sangat cocok di tanam di lahan gambut,  jahe merah adalah tanaman yang telah dilakukan pembibitan nya. Jahe merah sangat cocok di tanam di lahan gambut, meskipun tergolong tanaman yang cukup lama dipanen, tetapi secara perawatan tidak begitu rumit. Tidak hanya karena itu saja, harga jual jahe merah tergolong tinggi dipasaran sehingga ini di anggap sebagai tabungan bagi para petani untuk jangka waktu yang panjang.

“Sebelumnya petani telah melakukan pembibitan jahe merah menggunakan tanah liat dan hasilnya tidak maksimal bahkan sampai mati, kemudian setelah pelatihan, petani mencoba menggunakan tanah gambut sebagai media semai serta pupuk organik untuk pembibitan dan sekarang menunjukan pertumbuhan yang baik dibibit jahe merah yang di semai” ujar ketua kelompok tani kampung rempak

Tanaman Cabe dengan media tanam tanah gambut dan pupuk f1 Embio

Peserta lainnya telah melakukan penanaman sayur dengan menggunakan pupuk dan pengolahan tanah yang di dapat dari pelatihan, saat ini tanaman kangkung yang di tanam dengan memanfaatkan pekarangan rumah.

“rekan kita ini mencoba praktek di rumah dengan kangkung sebagai percobaan, sekarang bisa di lihat bagaimana pertumbuhan kangkung ini dengan pengetahuan yang di dapat, selain untuk kebutuhan sendiri sekarang sudah menjadi pemasukan bagi keluarga untuk tambahan ekonominya” tambahnya

Tanaman Kangkung yang di tanam dengan memanfaatkan pekarangan rumah salah satu peserta pelatihan SLPG

Selain kangkung, tanaman cabai untuk kebutuhan rumah tangga juga menunjukan pertumbuhan yang baik, harga kangkung perikat bisa terjual dengan harga Rp.3000 di pasaran dan di kedai, dengan mengatur jadwal tanam dan panen saat ini cukup untuk membantu keutuhan sehari – hari.

F1 Embio sipupuk organic sahabat petani

Selama prose pelatihan, disetiap desa/kampung peserta di ajak bersama – sama untuk mencoba membuat pupuk organik, hak ini dilakukan untuk membuat pertanian oleh masyarakat dilahan gambut tidak memakanbiaya yang cukup tinggi. Karena bahan-bahan yang dipakai untuk pembuatan pupuk ini dapat ditemukan dengan mudah.

Peserta Pelatihan SLPG sedang membuat Pupuk f1 Embio

F1 Embio bekerja sebagai Mikro Organisme dan bakteri yang mengurai peradaban tanah yang berfungsi untuk memicu kesubura tanah tanpa efek samping yang buruk kepada umur tanah dan tanaman, karena bakteri dan mikro organisme yang terus berkembang dan hidup terus menerus. Penggunaan pupuk ini bisa menghemat biaya untuk pupuk kimia hingga 50%  bahkan sampai 75%.

Dalam pembuatan pupuk organic ini hanya membutuhkan modal kurang lebih Rp.34.000 s/d dengan Rp.40.000 untuk membeli bahan – bahan ramuan pupuk ini. “Dengan modal tersebut 34.000 rupiah, bisa menghasilkan 5 Liter Pupuk F1 Embio, untuk penggunaannya dilarutkan bisa hingga 500 Liter air” Ujar Rasyid selaku pendamping SLPG dan staff Mitra Insani.

Tanaman Kangkung yang di tanam dengan pemupukan f1 Embio

“pupuk ini digunakan dalam penyiapan lahan gambut sebelum di tanam, bertujuan untuk meningkatakan kesuburuan tanah, untuk pengaplikasikannya pada lahan 1 hektar dibutuhkan 3 liter F1 Embio dan campuran air bersih sebanyak 180 Liter  dan 3 Kg gula Pasir” tambah rasyid.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Be informed!

Sign up for newsletter