Perlakuan Khusus Masyarakat Adat Dalam Menjaga Hulu Sungai Kampar

Perlakuan Khusus Masyarakat Adat Dalam Menjaga Hulu Sungai Kampar
0 comments, 02/11/2016, by , in Featured

Mitrainsani .or.id | Kelompok-kelompok masyarakat yang masih hidup dengan tradisi leluhur memiliki cara tersendiri dalam menjaga wilayah kawasan dimana mereka bertahan selama puluhan hingga ratusan tahun. Pola ini tetap berjalan hingga sekarang dan terbukti mampu menjaga kelestarian alam sekitar mereka.

Menurut Lahasin DT. Khalifah Batu Sanggan pada masa dulu sudah ada istilah dalam bahasa lokalnya ‘’ Concang laghe’’ concang laghe artinya merintis sebuah wilayah yang layak untuk dijadikan wilayah pemukiman, menurutnya tidak ada tercatat konflik antar leluhur pada masa itu dalam proses penguasaan wilayah,semua wilayah dibagi dengan sistim musyawarah dan mupakat antar sesama leluhur.
fr-3

Perlakuan khusus kelompok Masyarakat terhadap aliran Sungai

Karena sungai penyambung hidup maka muncul pepatah atau risalah-risalahnya pada masa itu’’Sungai ini adalah urat nadi, Sungai adalah bagaikan Ibu mereka tempat mengadu, sedangkan wilayah hutan adalah ibaratkan Bapak yang menghidupi mereka, atas landasan itulah masyarakat merasa penting untuk mengurus Sungai, sehingga kelompok masyarakat selalu melakukan perawatan-perawatan khusus terhadap Sungai, maka munculah kegiatan yang disebut ’’mupur-mupur alur’’ yang artinya melakukan kegiatan bersama {kegiatan sosial),untuk berusaha memperbesar dasar aliran Sungai dan selalu berkumpul di tepi sungai untuk berdiskusi.

Ada beberapa aturan Adat di 4 Kekhalifahan yang menjadi juru kunci di Hulu Das Kampar, yang teridentifikasi yaitu aturan pengelolaan ‘’lubuk larangan’’ dan aturan pengelolaan’’ lahan dah hutan ‘’seperti hutan Adat, meskipun ada aturan Adat yang telah mengalami sedikit pergeseran.

Aturan pengelolaan sungai melalui Lubuk Larangan adalah salah satu perlakuan khusus terhadap sungai, yang mana pada titik tertentu disungai tidak dibenarkan untuk diambil ikannya, hingga ada kata sepakat oleh seluruh komponen masyarakat barulah bisa untuk membuka lubuk larangan. Dalam prosesnya pun tidak dibenarkan menggunakan peralatan yang dapat merusak lingkungan dengan masa waktu satu hari panen, kemudian ditutup kembali. Hasil ikan yang didapat dijadikan pendapatan kampung – kampung yang berada di Hulu Das Kampar.
sdc10923
Banyak lagi kearifan lokal pada masyarakat di Hulu Sungai Subayang ini dapat diamati dari sisi aturan dan norma yang masih berlaku. Hal ini diberlakukan oleh niniak mamak terhadap cucu kemanakannya secara turun temurun sejak dahulunya. Lubuk Larangan dalam prakteknya secara tidak langgsung telah melestarikan alam sekitar dan sumberdaya perairan Sungai, dan juga keberadaan lubuk larangan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat baik dari segi Ekonomi dan juga terpeliharanya hubungan sosial serta tumbuhnya kesadaran untuk menghargai kearifan lokal yang diwariskan turuntemurun dari zaman Leluhur masyarakat tersebut.