Penobatan Ahli Waris Kerajaan Gunung Sahilan

Penobatan Ahli Waris Kerajaan Gunung Sahilan
0 comments, 06/02/2017, by , in Featured

Mitrainsani.or.id | 4 khalifah di Kampar Kiri membuat sebuah keputusan besar. Perencanaan yang telah dipersiapkan selama tiga tahun ini merupakan inisisatif yang dikaji seara mendalam untuk kembali mengangkat marwah masyarakat adat di Serantau Kampar kiri. Inisiatif untuk menggelar perhelatan penobatan ahli waris Kerajaan Gunung Sahilan yang menjadi Pucuk Pimpinan Kekhalifahan yang ada. Setiap khalifah mengatakan bahwa dengan dinobatkannya Penerus Kerajaan maka fungsi dari 4 kekhalifahan ini semakin jelas dan kuat dalam melakukan tugas dan kewajibannya.

Pagi hari, di desa Kuntu, Kampar Kiri. Rombongan 4 khalifah dengan datuk-datuk dan ninik mamak bersiap untuk berangkat menuju Gunung Sahilan dengan menelusuri sungai Subayang yang semuanya telah berkumpul di Desa Kuntu, prosesi ini merupakan hal yang juga dilakukan ratusan tahun yang lalu oleh khalifah sebelumnya.
Pada perahu khalifah, terlihat tongge/bendera dengan warna kebesaran mereka. Bendera berwarna Putih yang melambangkan agama sebagai tanggung jawab Kekhalifahan Ujung Bukit, warna Merah yang melambangkan Prajurit dan keamanan oleh Khalifah Batu Songgan, Bendera Hitam yang melambangkan aturan dan adat sebagai tugas Kekhalifahan Kuntu, dan Kuning yang melambangkan Aturan istiadat diwakili Kekhalifahan Ludai.

Dalam prosesi bagulung hilir saat perahu tiba di muara sungai Singingi, Rombongan disambut oleh Datuak Singo dari Lipat Kain. Prosesi ini terus berlanjut dan disambut juga dengan perahu – perahu nelayan yang telah menanti di pinggiran sungai dan bersama mengikuti rombongan perahu khalifah hingga ketepi pelabuhan Gunung Sahilan, rombongan kemudian disambut oleh Khalifah Besar Gunung Sahilan dengan Pantun dan persembahan silat. Para khalifah, datuk-datuk, dan ninik mamak dengan baju kebesaran mereka berjalan beriringan menuju istana Gunung Sahilan.
Penobatan Ahli Waris Kerajaan Gunung Sahilan
H. Tengku Muhammad Nizar adalah pewaris kerajaan Gunung Sahilan yang akan dinobatkan. Beliau merupakan anak dari Putra Mahkota dari Raja Kesepuluh yaitu Tengku Ghazali. Prosesi dimulai dengan melakukan arak – arakan menuju Istana Kerajaan, Ahli Waris Kerajaan yang menggunakan pakaian berwarna Kuning Emas dengan Atribut Kerajaan berjalan dengan diiringi Khalifah dan ninik mamak menuju lokasi Rumah Dalam (Istana Kerajaan).

Proses ini dihadiri oleh PJS. Gubernur Riau, PJS. Bupati Kampar serta Tokoh – tokoh Agama dan budaya Riau. Dentuman pertama Lelo (Meriam) merupakan pertanda prosesi dimulai dan setelah penobatan dilaksanakan juga diakhiri dengan Dentuman Lelo . meriam digunakan sebagai media komunikasi dan informasi yang digunakan saat ada aktifitas penting dan acara besar yang dilaksanakan didalam Kerajaan Gunung Sahilan.

Disela – sela prosesi ini terdapat aktifitas lain seperti pencucian benda – benda pusaka yang hingga saat ini masih terdapat didalam istana, seperti Payung Kerajaan, Pedang dan Keris, Tombak, Tongkat raja, Stempel Kerajaan, dan benda – benda perak serta tembikar. 4 ekor Kerbau yang dikorbankan menjadi hidangan kepada setiap orang yang hadir selama prosesi hajatan berlangsung. Hiburan rakyat juga menjadi sajian kepada masyarakat yang ada, musik tradisi, sejarah yang dikemas melalui teaterikal dan pemutaran film dokumentasi kegiatan yang telah berlangsung, dan disambung dengan memainkan rabab hingga pagi menjelang.