Pengelolaan Kawasan Mangrove Sebagai Alternative Lifelihood Bagi Masyarakat

Pengelolaan Kawasan Mangrove Sebagai Alternative Lifelihood  Bagi Masyarakat
0 comments, 06/01/2017, by , in Featured

Mitrainsani.or.id | Kawasan manggrove memiliki banyak potensi, selain sebagai penyanggah wilayah pesisir dari abrasi yang menyebabkan kerusakan ekosistim. Selain itu, mangrove juga dapat dijadikan Laboratorium Alami dimana terdapat banyak keanekaragaman hayati didalamnya untuk dapat diteliti.

Yayasan Mitra Insani (YMI) berinisiatif mendorong kawasan manggrove untuk dikelola secara utuh oleh masyarakat, jika dilihat dari potensinya sudah jelas kawasan mangrove memiliki banyak potensi yang dapat mendukung aspek aspek kehidupan masyarakat yang tinggal didalam kawasan tersebut.

Kelestarian ekosistem mangrove mampu menjadi sumber perairan yang memiliki nilai ekonomis tinggi, keberadaan bakau yang baik sebagai ruang hidup ikan, udang, kerang dan kepiting bisa menjadi hasil tangkapan masyarakat. dengan biaya yang tidak relatif tinggi, pengelolaan kawasan mangrove bisa menjadi Alternatif Lifelihood bagi masyarakat dikawasannya.

Pengelolaan Potensi Kawasan Mangrove
YMI telah mengupayakan bagaimana mendorong dan mentransformasi pengetahuan kepada masyarakat masyarakat melaui pemerintah desa dalam pengelolaan kawasan pesisir, sebagai contoh ada beberapa desa yang telah difasilitasi YMI dalam pemanfaatan kawasan pesisir ini, Desa Concong Dalam dan Desa Rawa Mekar Jaya. Desa Rawa Mekar Jaya Kecamatan Sungai Apit Kabupetan Siak menjaga ekosistem magrove dengan menjadikan kawasannya sebagai tempat wisata alam (Ecotourism). Bersama masyarakat membentuk komunitas yang menerapkan wisata dan edukasi kepada pengunjung bagaimana pentingnya keberadaan ekosistem mangrove. Peningkatan ekonomi yang terjadi kepada seluruh masyarakat ketika banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Desa Rawa Mekar Jaya. Selain produk umum, produk turunan lainya seperti dodol, sirup, selai, ikan kemudian anyaman yang semua bahan bakunya dari alam mangrove menjadi buah tangan wisatawan ketika berkunjung ke desa.

Lain cerita dengan Desa Concong Dalam Kec. Kuala Indragiri Kab. Indragiri Hilir, YMI mengupayakan untuk memaksimalkan masyarakat desa dalam pengelolaan mangrove yang berkelanjutan melalui skema Kebun Tanggul Mangrove (BUNTAROV). Model ini adalah praktik lama masyarakat yang kembali dimunculkan dalam menjaga kawasan pesisir. Kerusakan ekosistem mangrove dikembalikan melalui skema BUNTAROV yang menjaga kebun kelapa masyarakat akibat intrusi air asin. Selain itu, dengan skema ini, juga menciptakan ruang hidup baru bagi ikan, udang dan kepiting sehingga bisa juga menjadi hasil tangkapan paerairan bagi masyarakat. selain itu YMI juga melatih masyarakat bagaimana membuat produk turunan dari kelapa berupa Virgin Cococnut Oil (VCO).

Menariknya saat ini kepastian pengelolaan kawasan mangrove bisa melalui Perhutanan Sosial dengan skema Hutan Desa (HD ), inisiatif ini juga telah berjalan di Empat Desa yaitu desa yaitu Desa Perigi Raja, desa Tanjung Melayu, desa Sungai Piyai dan Kelurahan Sapat yang keseluruhan wilayah usulan Hutan Desanya merupakan kawasan pesisir.
Andi selaku staf YMI mengatakan bahwa pengelolaan kawasan mangrove lebih ekonomis jika dibandingkan dengan lahan gambut. Disamping itu pengelolaan lahan gambut memiliki resiko yang cukup tinggi ditambah biaya yang lebih besar. Kebakaran lahan di kawasan gambut salah satu dari sekian resiko dan ancaman bagi masyarakat untuk memaksimalkan pengelolaan dikawasan tersebut. “meskipun begitu, kawasan gambut tetap memiliki fungsi dan peran yang baik dan tetap dapat dikelola, akan tetapi hal ini hanya menjadi perbandingan dan pilihan bagi masyarakat yang ingin mencari sumber penghidupan selain dikawasan gambut, salah satunya pengelaolaan berkelanjutan dikawasan pesisir atau kawasan mangrove” ujar andi.

“untuk cost dilahan gambut kita dapat mengasumsikan rata – rata per hektarnya, mulai dari pembersihan lahan, bibit, pemupukan , dan perawatan sekitar Rp. 4900.000/ Ha nya, belum lagi resiko diserang hama selama proses pembesaran, dan perawatan bulanan untuk pupuk dan dibandingkan dengan kawasan manggrove masyarakat cukup mengambil bibit dari alam dan melakukan penanaman serta penjagaan intensif,yang terpenting adalah menajaga tanaman manggrove yang sudah ada dari aktifitas yang dapat merusaknya” Tambah Andi