Opini | Ulil Amri : Si Medang Yang Meradang

Opini | Ulil Amri : Si Medang Yang Meradang
0 comments, 14/03/2017, by , in Opini

Oleh : Ulil Amri

Kayu medang adalah jenis kayu yang memiliki suku Lauraceae yang tumbuh di beberapa pulau di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua. Pohon dari Kayu Medang ini bisa mencapai Tinggi sekitar 35 m, panjang bebas cabang 10 – 20 m, diameter dapat mencapai 100 cm, banir sampai 2 m. Batang pada umumnya berdiri tegak, berbentuk silindris, kulit luar warna kelabu, kelabu-coklat, coklat merah sampai merah tua, kadang-kadang beralur dangkal atau mengelupas kecil-kecil. Kayu Medang memiliki warna coklat merah kekuning-kuningan sampai keabu-abuan dengan tekstur agak halus dan memiliki serat Lurus, agak bergelombang dan berpadu.

Jenis kayu ini sangat mudah untuk dikeringkan dan memiliki kelenturan untuk diolah dengan daya retak yang sangat rendah. Kayu ini biasa hidup dikondisi wilayah daratan kering dan yang banyak hujan dengan ketingian sekitar 100 – 1200 m dpl.

Itulah profil singkat dari Si Medang yang menjadi primadona di kelompok – kelompok masyarakat baik perkotaan ataupun di wilayah perdesaan.

Di Riau saat ini pemanfaatan kayu medang sangatlah umum dalam memenuhi kebutuhan struktural bangunan, seperti Pintu, Kusen Jedela, Tiang, Papan Dinding,dan lain – lain. Selain itu, kayu medang menjadi kebutuhan pokok dalam pembuatan alat transportasi masyarakat yang hidup dikawasan aliran sungai.
Piyau, sebutan untuk Sampan kayu adalah alat transportasi yang digunakan masyarakat Kampar di Kawasan Sungai Kampar, khususnya di Kampakiri Hulu. Ada Piyau Ukuran Kecil dengan muatan 4-6 Orang dengan mesin 8 PK dan Piyau Besar dengan mesin 15 & 25 PK untuk 15-20 Orang.
publish piyau 1
Kayu Medang adalah bahan utama dari pembuatan Piyau, dan rata – rata setiap KK di Kawasan Sungai Kamparkiri Hulu memiliki satu buah Piyau. Terdapat kurang lebih 20 Kampung di Kawasan ini dengan rata – rata sekitar 400 Kepala Keluarga, artinya terdapat 8000 KK yang memiliki Piyau. Dalam pembuatan Piyau biasanya menghabiskan 2 – 3 Batang Pohon Medang. Jika dihitung kasar artinya sudah ada 24.000 batang pohon yang ditebang selama ini. Pohon medang memiliki usia produktif sekitar 15 – 20 tahun untuk dapat dimanfaatkan kayunya. Akan tetapi pada pembuatan sampan sendiri membutuhkan ukuran kayu yang berbeda – beda, Pohon Medang kecil pun tetap ditebang untuk memenuhi beberapa bagian sampan yang akan dibuat.
publish pembuatan piyau 2
Masyarakat yang berada dikawasan sungai kamparkiri hulu menjadikan sungai sebagai pendukung utama dari proses kehidupan, satu diantara yang paling utama adalah sebagai jalur transportasi. Sungai dimanfaatkan sebagai pengangkut hasil alam untuk dijual dan sebaliknya. Budaya dan peradaban sungai sangat terasa kental didaerah ini, hubungan timbal balik antara manusia dan alam telah terbangun sejak lama sekali, hal ini dibuktikan dari kegiatan budaya yang telah berlangsung dari leluhur masyarakat.
Kawasan Kamparkiri hulu berdekatan langsung dengan Suaka Marga Satwa Rimbang Baling (SMSRB) salah satu kawasan konservasi yang berada di Propinsi Riau yang merupakan bagian dari landscape Tesso Nilo – Bukit Tigapuluh. Penetapan sebagai Kawasan Lindung melalui Surat Keputusan Gubernur Riau Nomor Kpts.149/V/1982 tanggal 21 juni 1982 dengan luas ± 136.000 Ha. Secara administratif, kawasan ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Kampar dan Kabupaten Kuantan Singingi.

Praktik pembuatan Piyau bisa saja menjadikan ancaman ke Kawasan ini, penebangan oleh masyarakat dalam mencari Kebutuhan Kayu untuk Sampan semakin terus masuk kedalam hutan. Sebagian masyarakat yang memiliki anak lelaki mesti memiliki sampan sebagai bekal mereka nanti. Pada sajian data yang di kutip dari situs online badan pusat statistik kabupaten kampar 2013 tercatat 5.769 jiwa laki-laki di kecamatan kamparkiri hulu, dari jumlah jiwa laki-laki di Tahun 2013 sudah kurang lebih 60% jiwa pengguna sampan kayu waktu itu, menurut pantauan dilapangan dengan semakin bertambahnya jumlah jiwa laki-laki yang dewasa di perkampungan hulu’maka semakin meningkat pula jumlah unit dari kebutuhan pengguna sampan kayu.

Uji ketahanan dari sampan kayu tidak bisa terukur, bisa saja bila dimusim kemarau aliran sungai menjadi dangkal sehingga sampan kayu akan segera cepat habis terkikis bebatuan. Bagian yang sering terkikis disebut dengan “banan” tapak bawah bagian samping sampan” dan dibagian Haluan depan disebut dengan “pompang”, “papan belungkang” sebagai dinding sampan dimana bagian ini membutuhkan banyak kayu terutama pohon medang yang berukuran besar. Jika musim kemarau datang tidak sedikit sampan kayu masyarakat yang rusak karena nya. Bisa dibayangkan apa langkah yang di ambil dan difikirkan! “kemana lagi esoknya merambah jenis kayu medang?”.
publish pompang piyau 3
Praktik pembuatan Piyau, memang menjadi bagian dari aktifitas budaya, setiap sampan yang telah dibuat akan diberikan semacam ritual adat/syukuran sebagai bentuk wujud terima kasih dan membawa kebaikan ketika sampan digunakan, akan tetapi semakin bertambahnya penduduk dan kebutuhan akan alat transportasi membuat kegelisahan akan keberadaan SI Medang.

Pembuatan Sampan rata – rata mengabiskan biaya sekitar 1,5 Juta s/d 3 juta Rupiah/ unit tergantung besar dan kecil, akan tetapi pada awal tahun 2014 hingga saat ini perubahan drastis terjadi, harga 1 unit sampan kecil saja sudah mencapai 3 s.d 4 juta Rupiah dan sampan besar 5 s/d 8 juta Rupiah. Hal ini terjadi dikarenakan sulitnya bahan baku untuk didapatkan. Pembuat sampan mesti masuk lebih dalam ke areal hutan. Proses pengambilan bahan baku saat ini sekitar 1 s/d 2 hari hingga pengangkutan ke Desa. Kondisi ini adalah bukti nyata dari mulai kurangnya popilasi pohon medang di kawasan Kampar Kiri Hulu khususnya di wilayah SM Rimbang Baling.

Apakah Si Medang akan tetap bertahan? Apakah Melarang Menebang Pohon Medang Akan Menghambat proses kehidupan di Masyarakat Kamparkiri Hulu ?

Pepatah Tua Mengatakan ”Tak Ada Sakit Yang Tidak Memiliki Penyembuh, Tak Ada Masalah Yang Tak Ada Solusi”, artinya tetap ada sebuah solusi dalam menyeimbangkan proses tersebut, sudikah anda menjadi bagian dari menemukan solusinya?
ulil amri
Penulis : Ulil Amri (Staf Program Yayasan Mitra Insani)
FB : https://www.facebook.com/ulilamri.aman