Merancang Perbaikan dan Penjagaan Terhadap Daerah Aliran Sungai

Merancang Perbaikan dan Penjagaan Terhadap Daerah Aliran Sungai
0 comments, 27/06/2014, by , in Related

Kerusakan daerah aliran sungai Riau tidak dapat dielakkan lagi. Beberapa wilayah yang menggantungkan kebutuhan sumber air bersihnya pada 4 sungai besar di Riau. Sungai Rokan, Inderagiri, dan Siak merupakan sungai besar Riau dalam keadaan kritis. Dapat dilihat dengan kondisi lingkungan DAS (Daerah Aliran Sungai, red) yang terus menurun, dan berdampak kepada kelangkaan akan air bersih yang bertolak belakang dengan hak setiap manusia untuk mendapatkan air bersih.

Sebuah diskusi yang diprakarsai oleh Telapak Badan Teritori Riau dan Yayasan Mitra Insani yang didukung oleh BothEnds melalui Ecosystem Aliance Programme, mengajak berbagai kalangan untuk merumuskan dan mengembangkan konsep dalam rangka perbaikan serta penjagaan terhadap DAS Riau. Diskusi bertempat di Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Indragiri-Rokan Pekanbaru, Selasa (24/06). Dihadiri berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintahan, perusahaan, akademisi, kelompok masyarakat sekitar DAS, beberapa organisasi yang terkait, serta Rob Koudstaal yang merupakan konsultan IWRM (Integrated Water Resource Management) dari Belanda.

Salah satu DAS yang menjadi pokok bahasan adalah DAS Kampar, dengan luas sikitar 2.500.996ha. DAS Kampar dengan hulu dan lebih kurang 10,06% berada Sumatera Barat, sedangkan hilir dan 89,94% berada di Riau. Berbagai potensi di DAS Kampar (hayati, sosial, budaya, ekonomi, energi serta pariwisata, dll) akan luntur seiring terbengkalainya pengelolaan di DAS tersebut. Pengelolaan yang dimaksud adalah pengelolaan secara terpadu mencakup pengembangan potensi dan pemecahan masalah yang terjadi oleh semua pemangku kepentingan dan lapisan masyarakat dari hulu ke hilir.

Diskusi DAS Kampar Riau oleh YMI, Telapak, BothEnds dan EA

Diskusi DAS Kampar Riau oleh Telapak, YMI, yang didukung BothEnds melalui Ecosystem Alliance Programme

Yayasan Mitra Insani (YMI) dan Telapak BT Riau turut menjadi bagian dari perumusan hingga pelaksanaan menejemen sumberdaya air secara terpadu. Kegiatan-kegiatan fasilitasi masyarakat untuk turut serta mengelola hutan dan lingkungan DAS Kampar. Masyarakat diajak serta memanfaatkan potensi lingkungan tanpa merusaknya dan bahkan diajak memperbaiki demi kelangsungan kelestarian lingkungan dengan kearifan lokal yang ada.

Peran serta masyarakat pada pengelolaan DAS Kampar ini mempunyai posisi yang paling penting dimana masyarakat selain sebagai penikmat dari manfaat lingkungan, masyarakat juga sebagai pelaku dalam pelestarian lingkungan khususnya pada DAS Kampar. YMI menerapkan tata kelola masyarakat dalam pengelolaan hutan berbasis Hutan Desa di daerah hilir sungai Kampar yaitu Hutan Desa di Serapung dan Segamai Kabupaten Pelalawan. Dalam pengelolaan Hutan Desa tersebut, masyarakat adalah pelaku dan penerima manfaat dari hutan yang dikelola oleh Lembaga Hutan Desa yang dibentuk masyarakat secara musyawarah. Dengan model hutan desa yang diterapkan di hilir diharapkan dapat menjaga bahkan menjaga kualitas DAS Kampar khususnya bagian hilir.

Permasalahan yang ada pada pengelolaan DAS adalah pengelolaan yang terintegrasi dari hulu ke hilir, dan tidak bisa dilakukan di salah satu bagian sungai saja. “Untuk itu perlu diskusi yang tajam dan mengarah sebagai kepedulian kita atas semakin rusaknya kondisi DAS Kampar> kita mengajak semua peangku kepentingan untuk mari bersama-sama melakukan upaya perbaikan dan penjagaan terhadap DAS itu sendiri,” tambah Zainuri Hasim. (as)