Melawan Kehancuran Kawasan Mangrove melalui Pengelolaan Mangrove Berbasiskan Masyarakat

Melawan Kehancuran Kawasan Mangrove melalui  Pengelolaan Mangrove Berbasiskan Masyarakat
0 comments, 26/01/2017, by , in Featured

Mitrainsani.or.id | Yayasan Mitra Insani (YMI) telah berupaya dalam mendampigi desa – desa yang berada dikawasan pesisir Riau, beberapa inisiatif pengelolaan berkelanjutan kawasan mangrove telah dilakukan disetiap desa yg menjadi prioritas untuk dilakukan penyelamatan terhadap kawasan manggrove yang mulai rusak atau akan akan rusak akibat kondisi alam yg mengkibatkan konsdisi manggrove semakin tidak terkelola dengan baik ditambah lagi perilaku manusia dalam pemanfaatan kawasan mangrove yang tidak memperhatikan prinsip ekologi.

Yayasan mitra insani melihat anacaman kerusakan pada kawasan mangrove tidak hanya diakibatkan oleh kegiatan di laut, tapi sangat dipengaruhi oleh aktivitas di daratan, perencanaan pembangunan yang tidak memperhatikan antara hulu dan hilir meningkatkan potensi kerusakan kawasan mangrove sehingga menyebabkan kematian pada vegetasi dikawaan mangrove. Pengalaman masa lalu menunjukkan kerusakan mangrove tidak dapat dipisahkan dari aktivitas masyarakat di sekitarnya. Paradigma lama yang bersifat top-down terbukti tidak berhasil, bahkan memicu kerusakan lebih luas karena kurang memperdulikan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Jika masyarakatnya tidak sejahtera maka mangrove berpotensi untuk rusak lebih cepat.
ymi mangrove kuindra
Saat ini YMI mencba mendorong bagaimana pengelolaan kawasan mangrove secara berkelanjutan dan dipertahankan ekosistemnya. Ekosistem mangrove harus dikelola berdasarkan pada paradigma ekologi yang meliputi prinsip-prinsip interdependensi antar unsur ekosistem, sifat siklus dari proses ekologis, fleksibilitas, diversitas dari organisme beserta lingkungannya dalam suatu unit fisik DAS yang tidak bisa pisah pisahkan serta perbedaan perlakuan,jika ini tidak diaplikasikan maka kesalahan di masa lalu akan terus terulang artinya semua pihak tidak pernah belajar atas pengolaan sumber daya alam yang tidak tepat.

Yayasan Mitra Insani (YMI) telah melakukan pendampingan ditingkat masyarakat yang berada diwilayah pesisir Riau dalam menguupayakan penyelamatan kawasan mangrove antara lain desa concong dalam, Desa Prigi Raja,Kelurahan Sapat, Desa Sungai Piyai,Desa Tanjung Melayu di Kabupaten Indragiri Hilir ,di kabupaten siak terdapat Desa Sungai Rawa,Desa Rawa Mekar jaya, Desa Teluk Lanus,untuk kabupaten pelalawan Desa Serapung dan Desa Segamai. YMI menupayakan untuk mendorong kepada pengelolaan mangrove yang dimanfaatkan secara berkelanjutan dan dipertahankan keberadaan alaminy. Sebagian areal mangrove yang betul-betul tidak terganggu (pristine mangrove forest) mestilah diperjuangkan atau dialokasikan sehingga jika suatu pengelolaan mengalami kegagalan yang menyebabkan kerusakan bahkan hilangnya mangrove,maka bagian pristine mangrove forest dapat menjadi penyelamat kondisi tersebut.
Penanaman di kawasan Mangrove

Strategi yang dilakukan YMI dalam menyelamatkan kawasan mangrove adalah melakukan Peningkatan kapasitas Pemerintah Daerah dalam melaksanakan kewenangan dan kewajiban pengelolaan ekosistem mangrove sesuai dengan kondisi dan aspirasi lokal. Pengembangan riset, impek dan sistem informasi yang diperlukan untuk memperkuat pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan. Pengelolaan ekosistem mangrove melalui pola kemitraan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat dengan dukungan lembaga dan masyarakat Internasional, sebagai bagian dari upaya mewujudkan komitmen lingkungan global. Pengelolaan ekosistem mangrove sebagai bagian integral dari pengelolaan wilayah pesisir terpadu dan pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai). Keterlibatan masyarakat adat/lokal disetiap pengolaan manggorove. pengeloaan mangrove bertujuan konservasi harus dipadukan dengan tujuan untuk kesejahteraan masyarakat sehingga masyarakat memiliki insentif untuk melindungi kawasan mangrove dari kerusakan. Menjadikan kawasan manggrove sebagai objek wisata,yang dapat mendukung masyarakat dalam pengelolaan berkelanjutan sesuai kearifan lokal.