Launching Buku “Tegaknja ( Marwah ) Sumatera Kami”

Launching Buku  “Tegaknja ( Marwah ) Sumatera Kami”
0 comments, 30/12/2016, by , in Featured

Mitrainsani.or.id| Kamis, 22 Desember 2016 bertempat di Balai Adat Melayu Riau dilaksanankannya Peluncuran dan diskusi buku “Tegaknya [Marwah] Sumatera Kami dengan mengusung tema “SEKARANG Saatnya Politisi Berpikir Waras”. Kegiatan ini juga turut mengundangan Pemerintahan, Tokoh Masyarakat,NGO, para akademisi, Media,Mahasiswa, Komunitas – Komunitas Lokal dan Kelompok Pecinta Alam (KPA) peluncuran buku ini serentak dilaksanakan di 3 Provinsi antara Lain Prov. Riau, Prov Sumatera Barat dan Prov. Jambi.

Peluncuran buku ini dilaksanakan oleh Yayasan Mitra Insani yang bekerjasama dengan The Samdhana Institute dimana juga menghadirkan penulis dan penyunting buku, antara lain Zainuri Hasyim, Herber L.R Pangabean, Sigid Widagd, Arief Wicaksono dan Christian Bob Purba.Dalam sambutannya, Arief Wicaksono selaku Penyunting buku dari The Samdhana Institute mengatakan bahwa buku ini berisi ide dan gagasan penulis – penulis jika seandainya mereka menjadi pemimpin dan memberikan sebuah solusi dari permasalahan – permasalahan yang terjadi.

Datuk Al Azhar Tokoh Lembaga Adat Melayu Riau dalam sambutannya mengatakan bahwa konten didalam buku ini tidak hanya memaparkan permasalahan – permasalah komplit yang terjadi , akan tetapi juga memberikan sebuah penyelesaian berdasarkan pengalaman dan proses dari penulis. “akan lebih baik buku Tegaknya Marwah Sumatera Kami di jadikan sebagai teman untuk mendapatkan faedahnya, bukan dijadikan sebagai doktrin pembenaran akan sesuatu, tetapi untuk menambah khazanah pengetahuan dan bahan diskusi” ujar Datuk Al Azhar.

Arief Wicaksono mewakili The Samdhana Insitute dalam sambutannya memaparkan sekilas apa yang menjadi fokus kegiatan The Samdhana Insitute. Beliau juga menambahkan bahwa melalui buku ini Para aktivis pengorganisasian sosial dari beberapa daerah di Pulau Sumatera bekerja bersama masyarakat mendorong pewujudan Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (Community Based Forest Management) dengan memanfaatkan kebijakan Perhutanan Sosial (Social Forestry), serta kemudian mencoba berbagi hikmah dan pengalaman yang mereka petik selama enam tahun.

Sekumpulan narasi yang dikompilasi ke dalam buku berdasarkan pengalaman para aktivis memfasilitasi masyarakat merebut dan mendapatkan ruang kelola yang diakui Negara, yang mampu memberikan jaminan keselamatan dan produktivitas dengan mengupayakan terus berlanjutnya fungsi-fungsi alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.