Kembalinya Marwah Masyarakat Adat Kerajaan Gunung Sahilan (Bag. 2)

Kembalinya Marwah Masyarakat Adat Kerajaan Gunung Sahilan (Bag. 2)
0 comments, 05/02/2017, by , in Featured

Mitrainsani.or.id |Kerajaan gunung Sahilan menyatakan bergabung kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia setelah Kemerdekaan Indonesia sekitar tahun 1946 pada masa Raja ke Sepuluh, yaitu Tengku Ghazali (Putra Mahkota) yang saat itu belum sempat dilantik menjadi Raja. Saat ini Kerajaan Gunung Sahilan atau disebut juga Kerajaan Kampar Kiri secara geografis terleltak di Kab. Kampar Prov. Riau.

Secara adat, wilayah Kerajaan Gunung Sahilan hingga saat ini dibagi atas tiga Rantau yaitu, pertama Rantau Daulat dari Muara Langgai sampai ke Muara Singingi dengan kampung-kampungya, Mentulik, Sungai Pagar, Jawi-Jawi, Gunung Sahilan, Subarak, Koto Tuo Lipat Kain. Kedua, Rantau Indo Ajo, mulai dari Muara Singingi sampai ke Muara Sawa disebut Indo Ajo dengan nama negerinya adalah Lubuk Cimpur yang disebut dengan kapalo kotonya Gunung Sahilan.

Ketiga, Rantau Andiko dari Muara Sawa sampai Kepangkalan yang dua laras dengan negeri-negeri Kuntu, Padang sawah, Domo, Pulau Pencong, Pasir Amo (Gema), Tanjung Belit, Batu Sanggan, Miring, Gajah Bertalut, Aur Kuning, Terusan, Pangkalan Serai, Ludai, Koto Lamo dan Pangkalan Kapas. Dan pada awalnya di Rantau Kampar Kiri terdapat enam negeri asal yakni Negeri Gunung Ibu atau Gunung Sahilan, Negeri Bungo Setangkai atau Lipat Kain, Negeri Kuntu, Negeri Domo, Negeri Batu Sanggan dan Negeri Ludai.

Kerajaan Gunung Sahilan secara garis besarnya dibagi ke dalam dua wilayah besar yaitu Rantau Daulat dan Rantau Andiko. Rantau daulat adalah daerah pusat kerajaan. Rantau daulat berpusat di Kenegarian Gunung Sahilan. Sedangkan Rantau Andiko adalah daerah kekuasaan Khalifah yang berempat di mudik.