Kembalinya Marwah Masyarakat adat Kerajaan Gunung Sahilan (Bag. 1)

Kembalinya Marwah Masyarakat adat Kerajaan Gunung Sahilan (Bag. 1)
0 comments, 05/02/2017, by , in Featured

Mitrainsani.or.id | Empat ke-Khalifahan serantau kampar kiri menjadi bagian penting dari tegaknya masyarakat adat setelah dinobatkannya pewaris tahta kerajaan gunung sahilah atau kerajaan kampar kiri. Kurang lebih 3 tahun proses persiapan untuk melakukan perhelatan besar dalam memutuskan si pewaris Tahta Kerajaan Gunung Sahilan.

Perjalanan Yayayasan Mitra Insani (YMI) dalam mengikuti prosesi ini dimulai dari Desa Kuntu, desa yang berada di DAS Hulu Kampar ini merupakan titik awal prosesi penobatan bagi setiap khalifah. Terdapat 4 kekhalifahan yang bertanggung jawab dalam menjalankan harmonisasi kehidupan di serantau kampar kiri, yaitu ; Kekhalifahan Ludai yang berpusat di Kanagarian Ludai dengan Gelar Dt. Maharajo Besar, Kekhalifah Batu Songgan di kenegerian Batu Songgan dengan gelarnya Dt. Godang, Kekhalifahan Ujung Bukit di Tanjung Belit dengan Gelarnya Dt. Bendaharo dan Kekhalifahan Kuntu di Kanagarian Kuntu degan Gelarnya Dt. Bandaro.

Prosesi Begulung Hilir
begulung hilir
Begulung Hilir adalah bersama – sama menyusuri sungai kampar dari hulu ke arah hilir dengan menggunakan Perahu Kebesaran setiap Kekhalifahan. Perahu yang dihias dengan warna yang mencirikan setiap fungsi & tugas dari Kekhalifahan yang ada. Malam sebelum dilakukan prosesi ini, setiap Khalifah bersama dengan ninik mamak melakukan musyawarah hingga ketemu sebuah kata mufakat dalam prosesi nantinya agar tidak menyalahi aturan adat yang telah ditetapkan dalam sebuah perjanjian dengan istilah Sumpah Sotie, dimana sumpah ini dahulunya dinukilkan kesebuah batu dan diploklamirkan di Pulau Angkako yang terletak di tengah Hulu Sungai Subayang pertemuan antara Sungai Subayang dan Sungai Batang bio kemudian Prasasti tersebut ditenggelamkan di Lubuk Alai dimana titik ini merupakan bagian yang dalam di Sungai Batang Kampar.

Persiapan Begulung Hilir dimulai dari merias perahu yang akan menghantarkan para Khalifah menuju ke Kerajaan Gunung Sahilan, setiap perahu kekhalifahan memiliki corak warna tersendiri sebagai identitas kekhalifahannya. Selama proses menghias sampan, masyarakat dihibur dengan penampilan musik tradisi calempong, alat musik tradisi pentatonik ini dimainkan sekitar 5 orang yang nantinya pemain musik ini juga turut mengiringi perjalanan ke arah hilir.
Prosesi Bagulung Hilir
Kerajaan Gunung Sahilan sangat erat sekali kaitannya dengan Kerajaan Pagaruyuang yang berpusat di Sumatera Barat,menurut sejarah, Raja pertama yang memimpin merupakan keturunan dari kerajaan Pagaruyuang. Didalam Tambo Adat masyarakat kampar, wilayah kampar kiri sudah dikenal pada masa Nusantara (abad 1-5) yang dijelasakan melalui “Undang – Undang Kampar Kiri”. Dahulunya di wilayah Serantau Kampar Kiri dipimpin oleh Kerajaan Kuntu Darussalam yang runtuh pada abad ke 13 oleh kerajaan Singosari dan abad ke 14 oleh kerajaan Majapahit. Perpecahan dimasyarakat adat saat itulah yang memunculkan Sumpah Sotie dalam menyatukan Masyarakat adat setelah 200 Tahun tanpa tampuk kekuasaan dan terbentuklah Kerajaan Gunung Sahilan sebagai lembaga tertinggi didalam kekuasaan wilayah dan adat kemudian dibentuklah kekhalifahan untuk mengatur aturan – aturan serta pembagian wilayah kerja setiap kekhalifahan.