Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/mitrains/public_html/wp-content/plugins/essential-grid/includes/item-skin.class.php on line 1422

Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/mitrains/public_html/wp-content/plugins/revslider/includes/operations.class.php on line 2858
Kembali Mengenal Mangrove di Indonesia | Yayasan Mitra Insani

Kembali Mengenal Mangrove di Indonesia

Kembali Mengenal Mangrove di Indonesia
Kembali Mengenal Mangrove di Indonesia

Indonesia memiliki hutan Mangrove terluas di dunia, berdasarkan siaran Pers Kementerian LHK Nomor : SP. 58/HUMAS/PP/HMS.3/03/2017 menyatakan bahwa Indonesia memiliki ekosistem mangrove terluas di dunia serta memiliki keanekaragaman hayati yang paling tinggi. Dengan panjang garis pantai sebesar 95,181 Km2, Indoenesia mempunyai luas mangrove sebesar 3.489.140,68 Ha ( Tahun 2015 ). Jumlah ini setara dengan 23% ekosistem mangrove dunia yaitu dari total luas 16.530.000 Ha. Dari luas mangrove diindonesia, diketahui seluas 1.671.140,45 Ha dalam kondisi baik sedangkan areal sisanya seluas 1.817.999,93 Ha sisanya dalam kondisi rusak.

Seperti yang di lansir pada agroindonesia.co.id (11/12/2019), pada tahun 2019 luasan hutan mangrove bertambah menjadi 3,56 Juta Hekatare, hal ini tak lepas dari  kemitraan multi pihak yang melibatkan Pemrintah, akademisi, masyarakat setempat, pelaku usaha, LSM dan kemiliteran. Hal ini terungkap pada saat sesi panel tentang “akselerasi Rehabilitasii Mangrove di Indonesia” yang di gelar di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim COP25 UNFCCC di Madrid, Spanyol.

Jenis Mangrove di Indoensia

dilansir dari mongabay.co.id, Indonesia memiliki sekitar 202 jenis tumbuhan mangrove, meliputi 89 jenis pohon, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit, 19 jenis pemanjat, 5 jenis palma dan 1 jenis paku. Dari 202 jenis tersebut, 43 jenis ( Diantaranta 33 jenis pohon dan beberapa jenis perdu) ditemukan sebagai mangrove sejati ( True Mangrove). Sementara jenis lain, ditemukan di sekitar mangrove dan dikenal sebagai jensi mangrove ikutan ( associate associate ).

Peneliti senior dari Center for International Forestry Research (CIFOR), Daniel Murdiyarso, dalam risetnya (Murdiyarso et al., 2015), menjelaskan bila hutan mangrove Indonesia menyimpan lima kali karbon lebih banyak per hektare, dibanding hutan tropis dataran tinggi.

Mangrove Indonesia juga menyimpan 3,14 miliar metrik ton karbon (PgC). Sedangkan bagian bawah ekosistem menyimpan karbon sebesar: 78% karbon dalam tanah, 20% karbon di pohon hidup, akar atau biomassa, dan 2% di pohon mati atau tumbang.

Berdasarkan informasi dari CIFOR, mengenai Mangrove Indonesia: Berkas fakta: Kekayaan nasional dalam ancaman, disebutkan sekitar 3 juta hektare hutan mangrove tumbuh di sepanjang 95.000 kilometer di pesisir Indonesia.

Kerusakan Mangrove di Indonesia

Dilansir dari forestsnews.cifor.org bahwa ancaman dan penyebab utama Mangrove di Indoensia adalah akibat konversi tambak udang yang dikenal sebagai “revolusi biru” (Sumatra, Sulawesi dan Jawa Timur), penebangan dan konversi lahan untuk pertanian atau tambak garam (Jawa dan Sulawesi) serta degradasi akibat tumpahan minyak dan polusi (Kalimantan Timur) (FAO, 2007).

Hal ini juga di paparkan dalam presentasi “ Peta Mangrove Nasional dan Status Ekosistem Mangrove di Indonesia” Kemeterian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bahwa kerusakan mangrove di sebabkan oleh Alih fungsi lahan menjadi industry, pemukiman dan tambak, pencemaran limbah domestic dan limbah berbahaya lainnya, meningkatnya illegal logging dan eksploitasi berlebihan dan meningkatnya laju abrasi sebesar 1.950 Ha/tahun sepanjang 420 Km.

Hilangnya hutan mangrove di Indonesia menyumbang 42% emisi gas rumah kaca akibat rusaknya ekositem pesisir, termasuk rawa, mangrove dan rumput laut (Murdiyarso et al., 2015: Pendleton et al., 2012 ).

Upaya Negara dalam Mitigasi Kerusakan Mangrove

Dilansir dari website resmi https://kkp.go.id/ untuk tahun 2021 Kementrerian Kelautan dan Perikanan akan merehabilitasi 2.400 Hektare Hutan Mangrove dengan anggaran belanja sebesar Rp.43,34 Miliar yang dialokasikan di Ditjen Pengelolaan Ruang Laut. Disampaikan oleh Sakti Wahyu Trenggono anggaran tersebut rencananya akan fokus digunakan untuk melaksanakan rehabilitasi ekosistem mangrove yang ada di empat provinsi, Jawa Tengah dengan enam kabupaten, jawa timur 12 kabupaten, Banten di tiga kabupaten dsn jawa barat di 10 kabupaten.

Dilansir dari Kompas.com Badan Restorasi Gambut dan Mangrove ( BRGM ) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( KLHK ) melakukan Rehabilitasi Mangrove di sembilan provinsi di Indonesia dengan tital anggaran sebesar 1,5 Triliun.  Adapun Sembilan provinsi ini adalah Sumatera Utara, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua dan Papua Barat.  Kepala BRGM Hartono menjelaskan, rehabilitasi mangrove tahun ini akan dilakukan pada areal seluas 83.000 hektar dengan model secara bertahap.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Be informed!

Sign up for newsletter