Buntarov – Praktik Lama yang Dibangkitkan Kembali

Buntarov – Praktik Lama yang Dibangkitkan Kembali
0 comments, 31/01/2014, by , in Featured

Pagi hari 12 November 2013 Desa Concong Dalam terasa berbeda. Perangkat desa sibuk hilir mudik dengan perahu kayu dari Dusun Concong Dalam, Sungai Hukum dan Tanjung Raya menuju Dusun Parit Raja. Pemuda, kelompok perempuan, dan tak ketinggalan anak-anak SD meriuh di pelabuhan desa. Telah direncanakan, bahwa hari ini akan mulai dilakukan penanaman mangrove oleh Kepala Bappeda Indragiri Hilir.

Sekitar pukul 10.00 wib, penanaman mangrove dimulai oleh Kepala Bappeda, Alvi Furwanti, di Dusun Parit Raja, Desa Concong Dalam Kecamatan Concong. Penanaman kemudian dilanjutkan oleh perwakilan dari Dinas Perikanan, Dinas Perkebunan, Universitas Islam Indragiri (UNISI), tokoh masyarakat, dan Yayasan Mitra Insani. “Saya sangat mendukung inisiatif program ini, sedari awal disampaikan pada 2012 lalu karena tidak hanya aspek lingkungan, namun juga berhubungan dengan aspek ekonomi masyarakat,” tutur Kepala Bappeda dalam sambutannya.

Hari itu, sebanyak 100 bibit mangrove jenis Rhizopora spditanam secara simbolis. Keseluruhan 8.000 bibit bakau ini ditanam pada 4 hari setelahnya oleh Kelompok Peduli Mangrove Desa Concong Dalam. Formasi penanaman bibit mangrove dengan 5 baris ke luar dengan telah dilakukan. Kelompok ini juga sudah mulai menyiapkan 20.000 bibit mangrove lanjutan dalam tiga bulan ke depan dengan jenis campuran Bakau (Rhizopora sp.), Tumu (Bruguiera sp.) dan Apiapi (Avicennia sp.). Rencananya pada Maret 2014 mendatang penanamannya akan dilakukan. Tambahan spesies bakau baru ini merupakan hasil evaluasi bersama masyarakat. Perubahan formasi Apiapi – Tumu – Bakau akan menjadi pilihan. Jeni Apiapi sebagai benteng terluar dengan karakteristik kokoh akan ditopang oleh barisan Tumu dan Bakau. Pilihan atas jenis Tumu didasarkan pada jenis ini akan menjadi bahan baku kayu sebagai kebutuhan masyarakat.

=o0o=

Kegiatan penanaman mangrove di Desa Concong Dalam ini tidak datang dengan serta merta. Adalah Yayasan Mitra Insani (YMI) Riau yang melakukan inisiasi kegiatan di atas, sebagai bagian dari Proyek Community based Coastal Management (CBCM) yang dijalakannya sejak 2012. YMI, melalui Ecosystme Alliance (EA) Program[1],mendapatkan dukungan pendanaan dari IUCN (International Union for the Conservation of Nature) untuk program dengan durasi tiga tahun (2012-2014) ini.

“Program ini dimaksudkan untuk mengajak masyarakat berdaya pulih atas menurunnya produktivitas kelapa di sini sekaligus memperbaiki kondisi lingkungan,” papar Zainuri Hasyim, Direktur YMI. Ditambahkan Zainuri, bahwa telah menjadi pengetahuan bersama bahwa sejak 10-15 tahun terakhir terjadi penurunan hasil panen kelapa masyarakat. Secara ekstrem, masyarakat bisa menyebut bahwa produksi kelapa hanya tinggal 30-40% saja. Penyebabnya adalah intrusi air laut, memasuki kebun kelapa hingga rendaman air asin ini mengurangi buah kelapa secara drastis.

Kondisi ini menyebabkan banyaknya keluarga yang terpaksa meninggalkan kebunnya dan kemudian pindah ke kota menjadi buruh. Tembilahan, Pekanbaru, Jambi, dan kota-kota lainnya menjadi sasaran urbanisasi masyarakat. Bagi yang tetap memilih bertahan, harus mengubah mata pencahariannya. Kondisi ini diperparah lagi oleh makin terus rendahnya harga jual kelapa.[2]Padahal, Kabupaten Indragiri Hilir dikenal sebagai kabupaten dengan luasan kebun terbesar di Indonesia. Dengan luasan kebun kelapa 722.806 hektar, Pemkab Inhil mengklaim sebagai wilayah kabupaten dengan luasan kebun kelapa terluas di dunia (www.inhilkab.go.id).

=o0o=

Kondisi kebun kelapa yang kolaps telah menggiring masyarakat pada dua pilihan tertutup: pindah ke kota sebagai buruh, atau bertahan di kampung dengan mengubah sasaran produksi. Menebang dan menjual kayu bakau sebagai bahan cerocok/pondasi bangunan marak terlihat dalam 10 tahun terakhir, seiring dengan meningkatnya pembangunan di kota.Alhasil, luasan hutan manrove di Kabupaten Indragiri Hilir ini menurun drastis.[3]

Kepiting bakau menjadi gantungan sumber penghidupan baru lainnya. Harga yang cukup tinggi serta peluang pasar yang masih sangat terbuka menjadikan hampir seluruh keluarga di Concong Dalam melakoninya. Namun, keluhan nelayan atas menurunnya ukuran kepiting dan jumlah yang tertangkap sesungguhnya adalah alarm atas keterancaman komoditas ini. Gejala over-fishing yang telah dirasakan sudah saatnya disikapi dengan proses rehabilitasi dan restorasi agar sumberdaya ini tak akan kolaps pada masa mendatang.

Bagaimana dengan kaum perempuan? Para ibu mengambil peran dengan menggeluti pucuk nipah sebagai tambahan pendapatan keluarga. Pucuk nipah yang belum mekar dipotong, dipisahkan dari lidinya untuk kemudian dijemur. Konon kabarnya, pucuk nipah kering ini diekspor ke Thailand sebagai bahan baku rokok. Sementara lidi nipah dianyam sebagai keranjang buah.Kerajinan tangan berbahan lidi nipah ini melengkapi kerjinan tangan berbahan pandan yang telah lama digeluti masyarakat. Namun demikian pada akhirnya tak ada masyarakat yang bisa menjawab sampai kapan tanaman nipah akan tetap tersedianya untuk diambil pucuknya. Nampaknya, alarm lain akan segera berbunyi untuk segera disikapi.

=o0o=

Intervensi Proyek CBCM ini dimaksudkan untuk menemukan (menemukenali) bentuk dan strategi pemulihan ruang hidup masyarakat berbasis lingkungan mangrove di wilayah Indragiri Hilir.Proses panjang diskusi mendalam di tingkat masyarakat, pemerintah dan para pihak lainnyatelah mendapatkan model pengelolaan kebun kelapa dengan kombinasi tanggul dan tanaman bakau di sekelilingnya untuk mengatasi intrusi air laut.Buntarov (kebuntanggul-mangrove), demikian kami sekarang menyebutnya. Model ini sesungguhnya bukanlah baru, sudah ada sebelumnya namun telah lama sekali ditinggalkan masyarakat.

Pada masa itu, masyarakat biasa membuat tanggul di bagian terluar batas kebun kelapa dengan cara mencangkul, kemudian ditanami tanaman bakau di bagian lebih luarnya lagi. Namun belakangan, seiring dengan meningginya tingkat pasang air laut dan menguatnya desakan intrusi air laut menyebabkan masyarakat meninggalkan praktik terbaik ini sebagai pola mempertahankan kebun kelapa.Kemudian, alat berat menjadi pilihan untuk membuat tanggul dengan melupakan bakau sebagai benteng terluar. Padahal, ketergantungan terhadap alat berat untuk menanggul menyebabkan upaya penyelamatan kebun kelapa dirasakan masyarakatsangat berbiaya tinggi.

Proyek CBCM ini juga sedang mengukur aspek pendapatan masyarakat yang terdampak dari upaya perbaikan ekosistem mangrove selain kebun kepala. Terdapat 7 komoditas lain yang akan terdampak baik atas penanaman mangrove di sekeliling tanggul, yakni kepiting bakau, pucuk nipah, anyaman pandan, anyaman lidi nipah, ikan, udang, dan kayu. Seiring proses penyelamatan kebun kelapa sebagai sumber pendapatan utama masyarakat, diharapkan sumber pendapatan lainnya akan tetap bisa dilakoni masyarakat.

Dan, Desa Concong Dalam menjadi sasaran program didasarkan pada letaknya yang berdekatan dengan ekosistem mangrove Merusi, lokasi hutan mangrove dengan kondisi yang sangat baik yang masih tersisa. Selain itu, kegairahan masyarakat untuk mengembalikan fungsi-fungsi ekologis untuk mendukung sumber penghidupan sangat terasa di sini. Tanggul sepanjang 5 km yang membentang dari Dusun Tanjung Raya hingga ke Parit Raja menjadi pilot site. Informasi tentang inipun mulai tersebar di desa-desa sekitar. Tak sedikit cerita bahwa beberapa pemilik kebun kelapa di desa lainnya mulai mengadopsi model ini di kebunnya.Mendulang praktik-praktik terbaik pada masa lalu untuk kembali dibangkitkan di masa kini menjadi keyakinan masyarakat.

Seiring dengan proses implementasi pilot di tingkat tapak,kajian berbasis keilmuan juga sedang dilakukan.Beberapa pakar pesisir dan pengembangan masyarakat dari Universitas Riau dan Wetland International Indonesia Program telah bersinergi untuk memantapkan inisiatif ini. Setelahnya, YMI juga telah merentang sasaran intervensi di tingkat kebijakan pada bagian tahun ketiga dari pelaksanaan Proyek CBCM ini.Besar harapan, inisiatif ini akan mewarnai upaya perbaikan ruang hidup masyarakat di Kabupaten Indragiri Hilir.



[1]Ecosystem Alliance merupakan inisiatif program dengan tujuan mengurangi tingkat kemiskinan dengan cara memperbaiki lingkungan melalui penguatan kapasitas masyarakat dan mempengaruhi perubahan kebijakan. Program ini dijalankan di 16 negara di 3 benua, yakni Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

[3]Kesadaran dan keprihatinan atas kondisi hutan mangrove mendorong Dinas Kehutanan Kabupaten Inhil untuk melakukan reboisasi seluas 2.000 hektar pada tahun 2013 dan 2014 (Riau Pos, 10 Desember 2013)