Bertahan Dengan Pucuk Nipah

Bertahan Dengan Pucuk Nipah
0 comments, 31/07/2013, by , in Related
Kerusakan kelapa di Indragiri Hilir (Inhil) terjadi dalam skala besar dalam kurun waktu sepuluh tahun belakangan ini. Rusaknya kelapa masyarakat ini disebabkan oleh hancurnya tanggul-tanggul pelindung kelapa. itu diakibtkan oleh oleh faktor usia, kurangnya perawatan dan ditambah dengan faktor makin menipisnya kawasan mangrove. Karena faktor inilah kebun kelapa tergenang air laut dalam jangka waktu yang lama. Kondisi ini tidak bisa di perbaiki secara konvensional, tanggul harus dibuat baru karena sudah tak mungkin lagi untuk diperbaiki.
Dengan alasan APBD yang kecil dibandingkan dengan biaya yang dibutuhkan untuk penyelamatan kelapa di Inhil, membuat Pemerintah Kabupaten mengambil sikap yang sangat pragmatis. Kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh investor sawit untuk mengubah komoditas kelapa menjadi kelapa sawit. Masyarakat sendiri masih mengalami kebingungan untuk menghadapi situasi tersebut, tentu  ini akan mendatangkan permasalahan baru kedepannya.
Dusun sungai Hukum, Desa Concong Dalam menjadi contoh kasus dalam hal ini. Produksi kelapa yang merupakan sumber ekonomi utama menurun hingga 80 persen. Masyarakat saat ini mengalami masa susah. Mereka bertahan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang dapat dijual, seperti mencari ikan dan kepiting,  mencari kayu bakau dan mengolah pucuk Nipah (Nypa fruticans Wurmb).
Keacuhan yang di lakukan oleh pemerintah, memaksa masyarakat sungai hukum bertahan dengan kemampuan yang ada. Alam memang cukup menyediakan kebutuhan manusia jika tidak serakah. Buktinya adalah ekosistem mangrove yang tersisa dapat memberikan alternatif sumber penambahan ekonomi bagi masyarakat. Ekosistem mangrove yang ada di Sungai Hukum menyediakan Nypah yang cukup untuk masyarakatnya.
Pucuk Nypa dari hutan mangrove di kumpulkan oleh kaum pria, selanjutnya diolah oleh ibu-ibu dan remaja perempuan hingga pucuk nypah kering dihasilkan yang siap untuk dijual. Kegiatan ini dilakukan di masing-masing rumah, dan ada pula dilakukan  secara berkelompok. Hampir semua rumah tangga di Dusun Sungai Hukum melakukan aktifitas ini.
Proses pengelohan pucuk nipah hingga dipasarkan melewati proses yang sederhana. Pucuk yang diambil dipisahkan dari lidinya lalu dijemur, baik digantung maupun dijemur dilantai. Jika hari cerah dengan matahari yang terik penjemuran memerlukan waktu dua hari. Rata-rata satu keluarga dalam satu hari mengolah pucuk nipah sebanyak 2-3 bonggol pucuk nipah yang dikelola dalam waktu 3 hari. Pemasarannya cukup di antarkan ke penampung yang sudah ada di Desa.
Pucuk nipah kering dikirim ke Thailand untuk diolah menjadi menjadi pembungkus rokok. Penampung lokal membeli pucuk nipah kering dengan harga Rp 5.000/kg. Pucuk Nypa kering selanjutnya di distribusikan oleh pegumpul ke Kota Medan-Sumatera Utara yang katanya kemudian di ekspor ke Thailand. Informasi jalur perdagangan tersebut dikalangan masyarakat tidak terlalu jelas, namun masyarakat tidak memikirkannya. Yang penting bagi mereka adalah Pucuk Nypa masih dapat terjual dan mereka sudah cukup senang.
Masih banyak produk alternatif yang bisa dihasilkan dari pemanfaatan ekosistem mangrove secara lestari. Ini menjadi tantangan Yayasan Mitra Insani bersama Aliansi Ekosistem untuk segera mengembangkan generatif income di Dusun sungai Hukum Desa Concong Dalam.
http://ecosystemallianceindonesia.blogspot.com/2013/12/surviving-with-tip-of-nypa-leaf.html
Tags:
riau